23 July 2014  15:39 WIB
 
Home | Redaksi | Guest Book | Polling | Mailing List | Newsletter | Daftar Edisi | Chat | Kontak Nova
 

NOVA TERBARU
No. 1044 Thn. XVIII


Dapatkan Segera!
Sirkulasi:
Telp 021-2601666

Kabar Kabur
Ferdy Hasan
Adi Nugroho
Putri Patricia
Laudya Cynthia Bella
Mantan Gitaris Bunglon Mencuri
Profil
Ruth Hanna Simatupang
 
Best view with IE 5.5 & Netscape Navigator 6.1 or higher.
 

Maia Ahmad 1
PRESTASI MEROSOT TAJAM GARA-GARA PACARAN

Pentolan Duo Ratu ini tengah naik daun. Bahkan single terakhirnya, Teman Tapi Mesra, yang dibawakan oleh formasi baru Ratu, berhasil mendapat double platinum. Kisah hidupnya ternyata begitu unik dan menarik.

KLIK - Detail Untuk bisa menjadi musisi seperti sekarang ini, aku sudah mulai merintisnya sejak kecil. Aku, Maia Estiyanti, anak ke-5 dari 6 bersaudara yang lahir di Surabaya, 27 Januari 1977, sudah memiliki sifat ambisius yang sangat besar sejak kecil. Saking ambisiusnya, aku enggak pernah mau kalah dengan teman-temanku yang lain, termasuk saat ikut berbagai perlombaan.

Di masa kecil itu, aku sering ikut berbagai lomba dalam acara 17 Agustusan, misalnya saja balap karung. Perlombaan apa pun kuikuti karena aku yakin banget pasti akan menang. Namun, aku sportif, kok. Kalau pun harus mengalami kekalahan, ya enggak apa-apa. Yang pasti aku akan terus mencobanya lagi sampai menang.

Tahu enggak, aku juga termasuk galak dan sangar. Bahkan, aku sudah galak sejak masuk TK. Di hari pertama masuk, aku sudah mengajak teman sekolahku berantem. Sebenarnya pertengkaran itu terjadi gara-gara sahabatku diganggu dan didorong-dorong kepalanya oleh teman laki-lakiku. Sebagai teman baik, aku enggak terima sahabatku diperlakukan begitu. Akhirnya teman cowokku itu aku tonjok saja.

Sifat galakku terus berlanjut ketika aku masuk SD Katolik Yohanes Gabriel Surabaya. Kata Ibu, Kusthini, waktu SD itu aku pernah bikin bocor kepala teman sekolahku gara-gara kulempar dengan sebuah benda yang aku lupa. Aku memang lupa kapan peristiwa itu terjadi. Ibu bilang, gara-gara kejadian itu, orang tuaku sampai dipanggil kepala sekolah.

KLIK - Detail BAKAT ISTIMEWA

Orang tua, pasangan Ir. Harjono dan Kusthini, mendidikku dengan cukup keras dan disiplin. Waktu aku dan kelima saudaraku masih kecil-kecil, Ibu mendidik kami untuk bagi-bagi tugas pekerjaan rumah. Waktu aku TK memang keluarga kami punya pembantu, tapi setelah itu tidak lagi. Semua pekerjaan rumah Ibu alihkan kepada kami yang semuanya perempuan. Mulai dari mencuci baju, ngepel lantai, dan mencuci piring sudah pernah aku jalani.

Dibandingkan dengan saudara-saudaraku yang lain, aku termasuk anak yang paling cuek. Karena kecuekanku ini, Ibu pernah sampai menangis lo. Ceritanya, marching band pimpinanku sudah langganan jadi juara di Surabaya. Lalu, kami ikut lomba marching band se-Indonesia. Ibu mengantarku ke Jakarta. Ternyata aku berhasil meraih juara satu mayoret. Namun demikian, aku tetap saja cuek sama Ibu. Mungkin Ibu menangis karena sakit hati melihat sikapku.

Belakangan, sifat cuekku ini menurun kepada anakku yang nomor dua, Muhammad El Jalaluddin Rumi (6). Dia enggak bisa dipeluk-peluk. Istilahnya mau dipegang saja susah banget. Ibuku juga merasa, El enggak bisa dipeluk dan dicium. Ibu pun sadar, sifat cuekku sudah menurun ke cucunya.

Oh ya, di antara kelima saudaraku, kakak sulungku punya sifat yang sama denganku yaitu: sama-sama ambisius. Dia juga enggak mau kalah di segala bidang. Tapi, banyak positifnya, kok. Di sekolah, kakak selalu jadi bintang kelas. Aku pun berpikir, kalau dia bisa, kenapa aku tidak. Aku harus bisa membuktikan bahwa aku juga bisa juara seperti dia. Itu sebabnya, prestasi sekolahku juga menonjol.

Aku juga menonjol di bidang seni. Sejak kecil aku sudah bisa main musik lo. Waktu itu, aku sudah mengusai piano. Tanpa kusadari, saat guruku melatih marching band, tak jarang aku ikut menyumbang ide soal nada-nada lagu yang pas dimainkan. Kala itu, aku memang sudah mulai bisa mengaransemen lagu.

Itu sebabnya, kata guru-guruku, aku termasuk murid yang memiliki bakat istimewa. Pernyataan ini kutemukan di buku tahunan SD. Mereka menulis tentang anak-anak berprestasi di sekolah di buku itu dan aku termasuk di dalamnya.

KLIK - DetailIKUT LOMBA MODEL
Selulus SD, aku masuk ke SMP Negeri 1 Surabaya, yang termasuk sekolah favorit. Prestasiku, masih saja di atas rata-rata. Aku selalu masuk jajaran murid-murid the best ten di kelas. Selain prestasi sekolah, aku juga menonjol di bidang lain. Aku, kan, termasuk enggak bisa diam. Aku mulai ikut lomba-lomba model. Nah, salah satu perstasiku di dunia model, aku berhasil menang di ajang Model Aneka Yess tahun 1990.

Selain itu, aku juga sering ikut lomba model di Surabaya. Pernah juga jadi Juara 1 Putri Matahari dan sempat menuai protes banyak orang. Pasalnya, usiaku masih terbilang masih sangat kecil untuk menjadi juara. Sejak itulah tawaran untuk menjadi model lokal mulai membanjiri diriku.

Prestasiku yang selalu berada di urutan paling depan, tiba-tiba harus kandas saat aku naik ke SMA. Nilaiku merosot tajam karena aku sudah mulai pacaran sejak kelas 3 SMP dengan teman lain sekolah. Nilaiku semakin hancur saat SMA karena pacarku jadi satu sekolah denganku.

Ayahku yang biasanya melihatku juara kelas, tiba-tiba kaget saat tahu aku mendapat ranking 28. Tentu saja orang tua marah besar. Mereka pun membuat banyak larangan. Mulai dari enggak boleh pacaran sampai pulang larur malam. Di sisi lain, aku sudah mulai berontak pada orang tua.

Pemberontakanku dimulai saat aku bekerja di sebuah radio di Surabaya, radio yang membolehkan anak SMP atau SMA bekerja di sana. Berhubung bekerja di dunia yang erat dengan musik, aku mulai sering nongkrong dan pergi ke dugem. Aku pun aku mulai belajar jadi DJ musik. Ayahku juga mulai melarang aku nge-DJ.

Semakin dilarang, pemberontakanku semakin menjadi. Aku mulai berpikir untuk lepas dari rumah dan ingin hidup sendiri. Denga tegas kukatakan rencanaku pada Ayah. Akhirnya, Ayah membolehkan aku keluar dari rumah, asalkan aku harus masuk perguruan tinggi negeri. 


| kembali ke atas | print artikel ini | kirim artikel ini
 

Copyright © 2001 www.tabloidnova.com
All rights reserved.