17 April 2014  00:55 WIB
 
Home | Redaksi | Guest Book | Polling | Mailing List | Newsletter | Daftar Edisi | Chat | Kontak Nova
 

NOVA TERBARU
No. 1044 Thn. XVIII


Dapatkan Segera!
Sirkulasi:
Telp 021-2601666

Sorot
Andre Stinky
Kabar Kabur
YANI SIAP DIPERIKSA POLISI
DENADA DIET UNTUK PERAN JUMIRAH
OKKY JAGA HUBUNGAN ANAK
Kisah
Rudi Salam
 
Best view with IE 5.5 & Netscape Navigator 6.1 or higher.
 

Sophie Martin
LEBIH NYAMAN KERJA DI RUMAH

KLIK - DetailNamanya begitu lekat di benak kaum ibu. Namun, tak banyak yang tahu bahwa nama tersebut ternyata kepunyaan seorang wanita berdarah Perancis berusia 34 tahun. Berbekal pengalaman kerja di salah satu butik ternama kelas dunia, Ia pun merambah Indonesia dengan bisnis tas berlabel namanya sendiri.



(Berbincang dengan desainer tas ini ternyata cukup menyenangkan. Walau pembawaannya tenang dan gaya bicaranya sedikit hati-hati, wanita cantik ini bercerita seputar profesi yang dirintisnya dari nol, dalam Bahasa Indonesia yang tak begitu fasih, bercampur Bahasa Inggris, dan Perancis.

Perbincangan NOVA siang itu tambah seru dengan kehadiran Bruno Hasson, si empunya usaha sekaligus suami Sophie, yang dinikahi delapan tahun yang lalu. Mereka terlihat kompak, juga ketika NOVA akan mengabadikan momen mereka. Sesekali, Bruno menambah keterangan istrinya atau malah sebaliknya. Dengan gaya bercanda, mereka juga tak ragu melontarkan lelucon segar seputar keseharian mereka.)

Bagaimana ceritanya Anda dan suami mendirikan Sophie Martin?
Kami memulai usaha di Indonesia sekitar tahun 1995. Saat itu kami hanya punya seorang penjahit dan beberapa karyawan, jadi produk tas kami sangat terbatas. Saat krisis moneter melanda Indonesia, kami justru diuntungkan karena banyak produk impor yang tak dapat masuk. Nilai kurs dolar, kan, sangat tinggi.

Imbasnya, produk kami yang bermain di kelas menengah ini jadi punya kesempatan. Banyak orang bertanya, mengapa tas kami harganya sangat terjangkau? Ini karena sebagian besar material produk kami adalah buatan lokal.

Omong-omong, kenapa memilih Indonesia sebagai pasar produk Anda?
Kami tidak memilih Indonesia. Sebelumnya, kami sudah lebih dulu menyukai negeri ini. (Sophie melirik ke suaminya yang langsung membalas mengiyakan.) Maka, setelah menikah, kami pun memutuskan pindah ke sini. Baru setahun kemudian kami mulai menjajaki usaha ini.

Soal penambahan kata "Paris" di bawah logo Sophie Martin (SM), semata karena kami memang berasal dari Perancis. Itu saja. Padahal, SM asli produksi Indonesia, lho.

KLIK - DetailApakah SM juga dipasarkan di luar Indonesia?
Tidak. Saat ini SM hanya dipasarkan di Indonesia dengan sistem pemasaran berjenjang alias multi level marketing (MLM) yang terdaftar pada Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI). Kami menggunakan sistem MLM karena pertimbangan lebih praktis. Dengan cara ini ternyata produk kami lebih cepat dikenal masyarakat. Untuk perluasan pasar, kami punya rencana untuk mengembangkan usaha ini di Filipina.

Bagaimana tentang produk serupa bermerek SM yang dijual bebas di pasar?
Biarlah. Dengan begitu, kan, SM tambah terkenal di mata masyarakat. (Sophie tertawa kecil.) Lagipula, tindakan mereka enggak mengganggu jalur distribusi SM yang asli, kok.

Bagaimana Anda menggambarkan wanita pemakai SM?
Awalnya saya membayangkan wanita aktif yang bekerja atau mencari penghasilan sendiri. Mereka berusia antara 20 - 35 tahun. Karena mobilitas yang tinggi, mereka membutuhkan "sesuatu" yang simpel namun juga nyaman untuk kegiatan sehari-hari. Baik bekerja, sekadar jalan-jalan, bahkan saat harus naik kendaraan umum sekalipun.
Simpel buat saya adalah enak dilihat, artistik dan praktis dipakai (wearable, Red). Tapi sekarang, kami juga menggarap segmen usia muda seperti ABG, yakni mulai usia 15 tahun.

Ketika mendesain, apakah Anda membayangkan sosok seseorang yang kelak menggunakan karya Anda tersebut? Mungkin teman, sahabat, atau kerabat?
Ya, saya memiliki beberapa teman. Pada awal usaha, saya punya seorang teman baik. Dia orang Indonesia yang profesinya ibu rumah tangga. Meski usianya di atas saya, kami sering diskusi tentang banyak hal, termasuk bagaimana kami merintis usaha ini. Bahkan, ia pun turut mempromosikan tas-tas saya. Mungkin, ia adalah sosok "perempuan" yang saya bayangkan itu.

KLIK - DetailInspirasi Anda biasanya datang dari mana?
Kebanyakan dari alam sehingga desain saya pun cenderung bergaya natural dan simpel. Saya memang amat suka suasana pedesaan. Mungkin karena saya lahir dan dibesarkan di kota kecil yang suasana daerahnya masih kental, ya. Tapi sebagai referensi, saya wajib mengikuti perkembangan tren dunia. Seperti menonton fashion show di Paris atau Milan, serta mengikuti pameran tas dan aksesori di Itali, Paris dan Jerman setiap tahunnya.

Bagaimana, sih, proses kerja Anda mendesain? Apakah langsung mengambil pensil dan kertas atau menunggu inspirasi lebih dulu?
Dalam mendesain saya banyak bertukar pikiran dengan suami, soalnya dia amat cerdas dalam urusan marketing. (Sophie melirik Bruno sembari tersenyum.) Biasanya kami berburu material dan bahan sambil berdiskusi. Lalu, saya tinggal menyesuaikan material yang kami dapat dengan desain-desain saya. Atau, saya menggambar desain baru.

Kalau Bruno menghabiskan waktu bekerjanya di kantor, saya justru lebih banyak bekerja di rumah. Bagi saya, menggambar di rumah, suasananya jauh lebih menyenangkan. Apalagi, komitmen perusahaan ini mewajibkan saya untuk mengeluarkan 60 desain baru setiap dua bulan untuk katalog. Jadi pikiran harus selalu segar, kan?

Saya sadar, ini konsekuensi bergelut di bidang mode yang selalu menuntut inovasi. (Kepada NOVA, Bruno menunjukkan lembaran sketsa kasar karya Sophie serta beberapa foto sampel tas, yang akan dikeluarkan Oktober mendatang.) Saya juga dibantu team work. Dua di antaranya asal Indoneisa, yaitu Anick dan Maria, lulusan sekolah mode La Salle College, Jakarta.


| kembali ke atas | print artikel ini | kirim artikel ini
 

Copyright © 2001 www.tabloidnova.com
All rights reserved.