1 Oktober 2014  08:29 WIB
 
Home | Redaksi | Guest Book | Polling | Mailing List | Newsletter | Daftar Edisi | Chat | Kontak Nova
 

NOVA TERBARU
No. 1044 Thn. XVIII


Dapatkan Segera!
Sirkulasi:
Telp 021-2601666

Kabar Kabur
Rafly
Cornelia Sudah 3 Bulan Lalu Menikah
KD-Anang
Nia Paramitha
Kisah
Andi Rianto (3)
 
Best view with IE 5.5 & Netscape Navigator 6.1 or higher.
 

Antarina SF Amir
LAHIRKAN "BUNGA" BERWARNA-WARNI

Perempuan bernama lengkap Ratna Dewi Antarina (44) ini sangat mencintai bidang pendidikan. Selain aktif menjadi dosen, ia membuka sekolah internasional High/Scope Indonesia. Simak perjuangannya memajukan pendidikan.

KLIK - Detail Anda begitu concern dengan bidang pendidikan. Apa karena Anda cucu Ki Hajar Dewantara?
Sebetulnya saya bukan cucu langsung beliau. Kakek saya dari pihak ibu adalah adik Ki Hajar Dewantara. Lebih tepat, saya kagum pada Ki Hajar Dewantara. Meski beliau hidup di era yang bisa dibilang kuno, filosofi pendidikan beliau sangat maju untuk mempersiapkan anak secara balance.

Keluarga besar saya memang sangat peduli pada pendidikan, terutama ibu saya, Suwarmilah Surjaningrat. Ibu pernah bilang, untuk pendidikan apa pun akan diusahakan. Saya sebagai bungsu dari tiga bersaudara sejak kecil pun sangat hobi belajar.

Lantas bagaimana awalnya bisa benar-benar terjun ke dunia pendidikan?

Lulus dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tahun 1985, saya sempat menjadi asisten dosen di sana. Setahun kemudian, saya mendapat beasiswa di Clarion University of Penssylvania. Tahun 1988, saya melanjutkan mengambil Master of Business Administration dan Master of Science di University of Pittsburg, Pennsylvania, Amerika Serikat.

Saat di Amerika itu, mata saya seperti dibukakan tentang adanya dua paradigma sistem pendidikan. Profesor yang mengajar bilang, sistem pendidikan tradisional mengajarkan gambar bunga harus selalu merah dan daun berwarna hijau. Sang profesor kemudian membacakan sebuah puisi karya Harry Chaplin berjudul Flowers are Red, yang berkisah seorang anak yang depresi karena tak boleh menggambar bunga dengan warna yang lain.

Akhirnya hidupnya pun terbentuk statis. Nah, sistem pendidikan seperti itu sangat tidak mendorong kreativitas, ambition, curiousity, sense of adventure, dan sebagainya.

Lalu?
Parahnya, saya merasa itu justru terjadi pada saya. Selama belajar di sekolah, sejak bangku TK hingga kuliah di Indonesia, saya mengejar nilai yang bagus, text book, dan selalu mengikuti kata guru. Ternyata dalam dunia nyata itu tidak cukup. Banyak masalah yang harus kita hadapi sendiri tanpa didampingi guru. Saya merasa sangat bodoh saat menyadari itu.

KLIK - Detail Lain halnya dengan paradigma baru pendidikan, yaitu konstruktivis. Membentuk pengetahuan sendiri, dengan cara belajar investigative dan inquiry (tanya jawab). Anak yang berbakat bukan hanya karena taat pada guru, tetapi yang kreatif dan produktif, serta bisa mengambil keputusan sendiri dan percaya diri. Ada keseimbangan antara pengetahuan kognitif, sosial dan emosional. Anak tidak merasa terforsir, melainkan terstimulasi dan termotivasi. Dari situ akan lahir bunga yang tak hanya merah, tapi boleh berwarna-warni. Saya ingin menjadi orang yang membantu melahirkan bunga berwarna-warni itu.

Apa yang Anda lakukan ketika kembali ke Indonesia?
Tahun 1990, saya kembali ke Indonesia. Saya tetap mengajar di UI dan STEKPI, selain bekerja sebagai konsultan. Saat itu, saya melihat Indonesia masih menganut sistem pendidikan tradisional. Saya ingin mengupayakan sistem yang lebih konstruktivis
Ketika tahun 1994 saya mau menyekolahkan anak, saya mendengar di radio tentang sebuah sekolah bernama High/Scope berpusat di Amerika yang memiliki filosofi kreativitas.
Bahkan si penyiar membacakan puisi Flowers are Reds juga. Saya pikir, nah ini dia yang saya cari. Saya langsung cari info, ingin menyekolahkan anak saya di situ. Waktu itu ada High/Scope Indonesia terletak di Jalan Gereja Theresia. Tapi entah bagaimana manajemennya, baru satu tahun sekolah itu tutup.

Kemudian Anda tertarik membuka High/Scope Indonesia?
Ya. Waktu itu High/Scope berada di bawah Singapura, walau pusatnya di Amerika. Saya langsung ke Singapura untuk minta izin membuka sekolah itu lagi. Setelah diizinkan, 12 Agustus 1996 saya nekat membuka untuk tingkat pra sekolah atau ECEP (Early Childhood Educational Program) di daerah Pondok Indah. Awalnya masih mengontrak dan tempatnya kecil sekali. Muridnya pun hanya berjumlah delapan orang. Ternyata baru enam bulan jalan, muridnya membludak jadi 100 orang bahkan waiting list.


| kembali ke atas | print artikel ini | kirim artikel ini
 

Copyright © 2001 www.tabloidnova.com
All rights reserved.