30 July 2014  09:06 WIB
 
Home | Redaksi | Guest Book | Polling | Mailing List | Newsletter | Daftar Edisi | Chat | Kontak Nova
 

NOVA TERBARU
No. 1044 Thn. XVIII


Dapatkan Segera!
Sirkulasi:
Telp 021-2601666

Varia Warta
PAMERAN LUKISAN PARA ISTRI ANGGOTA TNI
GLOBAL DESIGN CONTEST 2006
MUNAS II IPHI PANCAWATI
 
Best view with IE 5.5 & Netscape Navigator 6.1 or higher.
 

Buntut Operasi Sinusitis Berujung Maut
"DAMAI? INI BUKAN PERANG"

Siswi SMU yang rajin ini rela berlibur di RS untuk operasi sinusitis. Tapi yang didapat justru kematian. Keluarga pun curiga dan melaporkan sang dokter ke polisi. Gara-gara korban dibius total?

KLIK - Detail Tenda dan puluhan kursi masih berjejer rapi di depan sebuah rumah di Desa Kebun Tanah Terban, Kec. Karang Bayu, Kab. Aceh Tamiang (Sekitar 120 km dari Medan). Beberapa orang dengan wajah muram keluar masuk rumah berdinding kayu itu. Ya, si empunya rumah memang sedang berduka. Selasa (11/7) silam, mereka kehilangan putri sulungnya, Tika Ramadhona (17).

Kematian Tika yang begitu mendadak memang memunculkan simpati dan keprihatinan dari kerabat dan kenalan pasangan Zulham (35) dan Rahma (36), orang tua Tika. Sudah hampir sepekan ini keluarga sederhana ini dibanjiri tamu. Mereka bukan hanya ingin menghibur keluarga yang sedang berduka. Beberapa tetangga malah bergiliran mengirim rangsum untuk keluarga ini.

RELA BERLIBUR DI RS
Bagi Rahma, musibah ini menjadi peristiwa terpahit dalam hidupnya. "Dia pergi masih segar bugar. Tapi begitu pulang kok, tinggal nama. Lama sekali saya bisa percaya anak saya sudah meninggal," tutur Rahmi mengawali perbincangan dengan NOVA Jumat (14/7) lalu.

Senin (10/7) lalu, Rahmi mengantar anaknya ke RSUD Tamiang. Rencananya dokter akan menyedot lendir Tika. "Sebenarnya sejak lama Tika menderita sinusitis. Dia memang sangat terganggu dengan penyakitnya ini. Harapannya, setelah disedot, penyakitnya tidak kambuh lagi."

Dikisahkan Rahma, penderitaan anaknya sudah dirasakan sejak SMP. "Dia merasa hidungnya bau." Tapi bukan itu yang membuatnya tersiksa. "Dia sering flu yang selalu disertai dengan pusing. Saya kasihan karena kalau penyakitnya datang, ia sampai menangis menahan sakitnya."

Rahma sudah berkali-kali membawa Tika ke RS Langsa. "Anehnya, begitu obatnya habis, penyakitnya kumat lagi." Karena sering izin tak sekolah jika penyakitnya kambuh, maka liburan kali ini Tika berniat periksa ke RS yang lebih besar. "Apalagi setelah lulus SMU, ia berencana masuk sekolah Polwan. Pokoknya liburan kali ini Tika rela tak ke rumah neneknya di Binjai demi kesembuhan penyakitnya ini."

KLIK - Detail Tak heran, setelah liburan tiba, Senin (3/7) lalu, Tika langsung periksa di RS Rantau Kuala Simpang. "Dari hasil rongen, ternyata ia menderita sinusitis," sela Zulham. Seminggu kemudian, pegawai perkebunan ini menyuruh istrinya mengantar Tika sedot lendir di RS Langsa, seperti yang dianjurkan dokter. "Saya sengaja tak ikut, karena saya kira itu hanya tindakan medis kecil," jelas Zulham yang hari itu justru menjemput tamu kantornya di Medan.

NYERI SAAT DIBIUS
Rupanya, yang dilami Tika tidak seperti yang dibayangkan Zulham. Sehari setelah masuk RS, dokter memang langsung mengambil tindakan, yakni menyedot lendir yang bersemayam di hidung Tika. Tapi rupanya, operasi itu tak berjalan mulus. "Semula Tika hanya dibius lokal. Ternyata ia masih nyeri saat dokter memasukkan alat ke hidung Tika," jelas Rahmi yang menjaga anaknya di luar kamar operasi. Dokter lalu menyarankan agar Tika dibius total.

Zulham yang dikabari istrinya setuju saja atas saran dokter. "Saya, kan, enggak tahu apa-apa soal medis. Makanya saya percaya pada dokter saja," jelas Zulham yang mulai merasakan operasi anaknya ada yang tak beres.

Benar, tak lama kemudian, istrinya kembali menelepon. Kali ini, ia minta agar segera ke RS. "Sampai di rumah sakit, saya lihat beberapa perawat berlari ke ruang operasi. Begitu ketemu istri, langsung dikasih tahu, Tika sudah tiada. Saya sama sekali tak menyangka bakal begini jadinya."

Di ruang operasi, Zulham mendapati putrinya sudah terbujur kaku di meja operasi. "Ia masih mengenakan pakaian operasi dan tangannya diikat di sisi meja operasi." Saat matanya menatap jasad putrinya yang sudah terbujur kaku, datang tiga dokter, dr. Nilam, dr. Syabudin, dan dr. Maryam. "Mereka menenangkan saya. Mereka juga bilang sudah berusaha, tapi kondisi Tika sudah drop," tambah Zulham. "Tapi waktu masuk ruang operasi sih, kondisnya masih baik-baik saja kok," sela Rahmi yang sejak pagi menunggui putrinya. "Tapi begitu masuk ruang operasi, saya enggak tahu apa yang dilakukan dokter."


| kembali ke atas | print artikel ini | kirim artikel ini
Artikel Lain:

• Indah Ludiana
• Kampung Talent
• Musibah Salah Tranfusi Darah
• Bedah Kampung Menunai Kecewa
• Akhir Perseteruan Clif Sangra VS Menantu
• Mengenal Cat Kuku Digital
• KAPAN SIRING BISA MENGGELINDING?
 

Copyright © 2001 www.tabloidnova.com
All rights reserved.