30 July 2014  11:09 WIB
 
Home | Redaksi | Guest Book | Polling | Mailing List | Newsletter | Daftar Edisi | Chat | Kontak Nova
 

NOVA TERBARU
No. 1044 Thn. XVIII


Dapatkan Segera!
Sirkulasi:
Telp 021-2601666

Kabar Kabur
Cerita di Balik Damai Fanny-Taufik
Chaterine & Alexandra
Babak Baru Tommy VS Tata
Kisah
Sandra Loise (2)
 
Best view with IE 5.5 & Netscape Navigator 6.1 or higher.
 

dr. Zainal Muttaqin,Sp.BS.,Ph.D.
SUKSES BEDAH OPERASI EPILEPSI

Keinginan untuk membantu meningkatkan kualitas hidup penyandang epilepsi membuat dokter spesialis bedah saraf ini terus bekerja keras. Kini lelaki berusia 48 tahun yang berdomisili di Semarang ini menjadi satu-satunya dokter yang bisa melakukan bedah epilepsi di Indonesia. Lebih dari seratus pasien pun sudah berhasil ia tangani.

KLIK - Detail Bagaimana muasalnya Anda mendalami spesialisasi bedah saraf?
Begini, sejak SMP saya memang bercita-cita menjadi dokter. Orang tua saya yang hanya berjualan di Pasar Johar, Semarang, sangat mendukung. Meski tergolong tidak mampu, mereka tetap menginginkan saya, sulung dari tujuh bersaudara, mendapat pendidikan yang layak.

Saat SMA, saya mendapat kesempatan ikut pertukaran pelajar ke Amerika Serikat selama satu tahun. Saat tinggal di sana, saya sering diajak adik orang tua angkat saya yang berprofesi sebagai perawat di sebuah rumah sakit besar, ke tempat kerjanya. Saya pun tambah tertarik dengan dengan dunia kedokteran.

Lulus SMA tahun 1977, saya berhasil masuk ke Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip). Selama kuliah itu, saya merasa sangat tertarik mempelajari organ otak. Lulus dokter, saya sempat nyambi kerja sebagai dokter jaga di beberapa rumah sakit swasta dan mengajar di beberapa sekolah. Tetapi, sebetulnya saya masih ingin melanjutkan sekolah spesialisasi bedah saraf. Kendalanya, orang tua saya sudah angkat tangan membiayai.

Lalu?
Saya nekat pergi ke Jakarta dan mendatangi beberapa kedutaan untuk mencari beasiswa. Saya ikut tes persamaan lulusan dokter yang diadakan setiap tahun untuk bisa sekolah spesialisasi di Amerika. Dua kali ikut, saya gagal. Tetapi, saya tidak putus asa. Tahun 1996 Undip mendapat tawaran program spesialisasi dari pemerintah Jepang. Syukurlah saya lolos tes. Setahun kemudian saya masuk Universitas Hiroshima, Jepang untuk mengambil program S3 dan spesialisasi bedah saraf. Selama di Jepang, saya memboyong istri dan anak-anak saya.

Kapan Anda mulai menekuni bidang bedah epilepsi?
Tahun 1993 saya kembali ke Tanah Air. Sebelum pulang, guru-guru saya di sana berpesan, "Kamu adalah investasi kami di Indonesia, janganlah mati muda. Kami akan support kebutuhanmu untuk mengembangkan diri di bidang pekerjaan. Syaratnya, dalam sepuluh tahun jika kami tak mendengar namamu di Indonesia, kamu lebih baik pergi ke neraka saja. Dari situ saya berpikir, apa yang bisa saya kembangkan di Indonesia.

KLIK - Detail Beberapa tahun riset dan sebagainya, akhirnya muncul ide mengembangkan bedah epilepsi. Di Amerika, Eropa dan Jepang, bedah epilepsi memang sudah banyak dikembangkan, tetapi di Indonesia belum ada. Padahal, penyandang epilepsi di Indonesia cukup banyak, sekitar 0,5 persen dari keseluruhan populasi, yaitu sekitar 2 juta orang. Saya juga ingin mengubah pandangan masyarakat bahwa epilepsi penyakit keturunan. Memang ada yang berkaitan dengan faktor genetik, tetapi hanya sekitar 8 persen.

Bagaimana Anda menyosialisasikan bedah epilepsi?
Saya sempat mengikuti program adaptasi di RS Hasan Sadikin Bandung selama enam bulan, lalu mulai bekerja di RS dr Kariadi, Semarang. Nah, setiap ada pertemuan dokter spesialis saraf di Semarang, saya minta waktu untuk bicara tentang bedah epilepsi. Di sebuah simposium epilepsi nasional di Palembang, saya pun mendatangkan guru saya, Profesor Hori, dari Jepang untuk menjadi pembicara.

Wah, periode saya memperkenalkan bedah epilepsi memakan waktu cukup lama. Saya muter-muter memberikan penerangan ke berbagai daerah. Saat itu, saya belum pikirkan soal ada atau tidak pasien yang mau dibedah.

Kalau dari masyarakat, bagaimana tanggapannya?
Awalnya mungkin masyarakat awam ngeri mendengar kata bedah atau operasi. Apalagi sebagian masyarakat menganggap penyakit epilepsi ini sebagai aib yang harus ditutup-tutupi. Saya pun menyosialisasikan bedah epilepsi ini ke masyarakat awam lewat tulisan-tulisan media maupun seminar-seminar. Lama-kelamaan, kepercayaan masyarakat pun terbentuk. Banyak pasien yang berdatangan. Tak hanya dari pulau Jawa, tetapi hampir seluruh Nusantara.

Kapan Anda mulai mengoperasi penyandang epilepsi?
Pertama kali saya menangani bedah epilepsi pada 19 Juli 1999. Waktu itu saya masih mendampingi, sementara yang mengoperasi adalah guru saya dari Jepang, Profesor Arita.

Bagaimana hasilnya?
Syukur, si pasien berhasil sembuh. Bahkan si pasien yang dulunya sangat minder, setelah operasi kondisinya membaik dan bisa mengelola usaha sendiri. Sejak itu, pasien mulai menaruh percaya dan banyak yang datang untuk konsultasi. Setelah beberapa kali mendampingi, saya mulai berani mengoperasi sendiri.


| kembali ke atas | print artikel ini | kirim artikel ini
 

Copyright © 2001 www.tabloidnova.com
All rights reserved.