30 Oktober 2014  19:35 WIB
 
Home | Redaksi | Guest Book | Polling | Mailing List | Newsletter | Daftar Edisi | Chat | Kontak Nova
 

NOVA TERBARU
No. 1044 Thn. XVIII


Dapatkan Segera!
Sirkulasi:
Telp 021-2601666

Varia Warta
PERAGAAN BUSANA HARI IBU
MEMBUAT KUE BERSAMA ANAK PANTI
SEHAT ITU MURAH
KAMPANYE TEMAN SEJATI DOVE
 
Best view with IE 5.5 & Netscape Navigator 6.1 or higher.
 

Bisnis Lampu Hias Anak
ADA STROBERI, ADA PULA BENTUK MATAHARI

Berawal dari rasa tidak puas saat mencari lampu hias untuk kamar anaknya, ibu dua anak ini akhirnya membuat sendiri. Dari sinilah muncul ide untu berbisnis. Sejak itulah, bisnis lampu hiasnya laris dicari pembeli, terutama saat pameran.


KLIK - Detail Semula tak ada rencana di benak Eny Widyastuti Pramutiasari (36) untuk bisnis lampu hias. Setelah lulus kuliah Universitas Trisakti jurusan Arsitektur tahun 1994, wanita yang akrab dipanggil Tia ini sempat bekerja di perusahaan konsultan arsitektur. Ia kerja di sana selama tiga tahun. Setelah punya anak, Tia memutuskan untuk berhenti karena merasa kerepotan membagi waktu. Ia memilih bekerja sebagai asisten dosen yang waktunya lebih teratur di almamaternya.

Suatu waktu ketika menjadi dosen, ia mengunjungi sebuah pameran. Ia mencari lampu hias untuk anak sulungnya yang waktu itu berumur empat tahun. Tapi ia tidak menemukan yang pas. Yang banyak ia temui justru bermodel etnik atau lampu interior resmi. "Padahal yang saya cari yang berwarna dan bentuknya khas untuk anak-anak," ujar Tia.

Tia gagal menemukan lampu hias yang diinginkan. Lantas apa yang dia lakukan? Tia bermaksud membuat lampu hias anak sesuai dengan kreasinya. Ia menggambar sendiri sketsanya. Lalu, ia mencari tukang las untuk membuat rangka lampu seperti yang diinginkannya. "Kalau tidak salah, bentuknya bulan yang dipasang di meja," tutur Tia.

KLIK - Detail Setelah beberapa kali bongkar pasang, akhirnya lampu tersebut selesai. Tia pun puas. Rupanya, lampu hias kreasi Tia menarik seorang temannya yang datang ke rumahnya. "Saya disarankan membuat beberapa lampu hias lagi supaya bisa dijual. Sarannya saya turuti," ujar wanita bertubuh kecil ini.

Bersama sang teman, Tia berhasrat untuk bisnis lampu hias. Setelah jumlah karyanya memadai, Tia dan sahabatnya patungan untuk menyewa stan pameran Inacraft tahun 2003. Ikut pameran diyakini jadi sarana promosi yang efektif. Ternyata benar. Di luar dugaannya, lampu hiasnya laris terjual.

Sejak itu, Tia bersemangat mengembangkan usaha barunya tersebut. Bahkan, ia berniat terjun serius menekuni usaha lampu hias. Tia tak henti berkreasi. Ia sadar, lampu meja kurang praktis karena penempatannya membutuhkan meja di dalam kamar. Padahal, tidak semua kamar anak besar. Akhirnya, ia memodifikasi lampu tersebut menjadi lampu dinding.

KLIK - DetailKUPU-KUPU MERAH
Tia membuat desain-desain baru. Untuk menyesuaikan dengan penggunanya yang masih anak-anak, Tia membuat bentuk yang lucu. Misalnya bentuk matahari dengan mata dan mulut. Ia pun makin rajin mengikuti pameran yang diadakan di Jakarta, termasuk pameran yang diadakan di beberapa mal.

Tahun 2003, menurut Tia, belum banyak orang yang berkecimpung dalam bisnis lampu hias anak-anak. Dari pengamatannya saat datang ke beberapa pameran, yang banyak dijual adalah lampu dengan kap bermotif etnik, retro, atau natural. Itu sebabnya, ia optimis usahanya berjalan lancar.

Omong-omong berapa modal awal untuk memulai bisnis rumahan ini? Tia menyebut angka Rp 5 juta. Selain digunakan untuk membuat beberapa lampu, uang itu juga dipakai untuk menyewa stan-stan pameran dan membuat brosur. "Waktu itu saya gambling karena belum tahu produk saya ini diterima pasar atau tidak. Jadi tidak memproduksi dalam jumlah banyak," ujar Tia.

KLIK - Detail Awalnya, untuk satu model yang besar, Tia hanya membuat lima buah. Sedangkan untuk model yang kecil, ia memproduksi 10 buah dalam berbagai warna. Ternyata usahanya makin maju. Dasar kreatif, ia mengembangkan batas usia pengguna lampunya hingga remaja. "Sebab, waktu masuk pameran, yang banyak membeli justru remaja SMP, SMA dan mahasiswa. Kalau menjelang Valentine, saya banyak menyediakan bentuk hati," tutur Tia.

Untuk remaja, desainnya lebih sederhana, tapi warnanya dibuat lebih beragam. "Biasanya remaja sering menyesuaikan warna barang-barangnya dengan warna cat kamarnya. Misalnya saja stroberi, warnanya bukan hanya merah, melainkan juga ada pink, kuning, oranye. Kupu-kupu biru pun ada," terang Tia.

Sekarang semakin banyak model yang didesai Tia. Antara lain bunga, bulan, bintang, matahari, kupu-kupu, hati, stroberi, apel, dan mobil. Satu model tidak dibuat Tia dalam jumlah banyak. Maksudnya, agar lebih terkesan eksklusif.


| kembali ke atas | print artikel ini | kirim artikel ini
Artikel Lain:

• Kemenangan Film Ekskul Dipertanyakan
• Adjie Massaid-Angelina Sondakh
• Bunga Citra Lestari
• Kristina Disunting Anggota DPR
• Tragedi Hilangnya Pesawat AdamAir
• Cerita Keluarga Dua Pramugari
• Satu Keluarga Korban AdamAir
• Perjuangan Penumpang KM Senopati
• Semangat Sumi Tak Kunjung Padam
 

Copyright © 2001 www.tabloidnova.com
All rights reserved.