25 Oktober 2014  17:10 WIB
 
Home | Redaksi | Guest Book | Polling | Mailing List | Newsletter | Daftar Edisi | Chat | Kontak Nova
 

NOVA TERBARU
No. 1044 Thn. XVIII


Dapatkan Segera!
Sirkulasi:
Telp 021-2601666

Varia Warta
SITUS SAHABAT GINJAL DILUNCURKAN
SYARIAH FAIR DI MEDAN
PENTAS SENI WNI DI HONG KONG
KONSEP BARU DUNIA DANCOW
 
Best view with IE 5.5 & Netscape Navigator 6.1 or higher.
 

WABAH FLU BURUNG DI MATA SELEB PENCINTA BURUNG

Untuk memutus rantai penularan penyakit flu burung, Dinas Peternakan DKI Jakarta, pekan lalu gencar memusnahkan unggas terkontaminasi virus H5N1 di wilayah Jakarta. Demi kesehatan, pemelihara unggas tak keberatan mendaftarkan unggasnya, termasuk para selebritis ini.


KLIK - Detail Di setiap pagar halaman kantor kecamatan di wilayah DKI Jakarta, sejak pekan lalu terpampang spanduk bertuliskan larangan memelihara unggas di pemukiman. Larangan ini sesuai dengan Peraturan Gubernur (Pergub) nomor 15/2007. Pemda DKI juga mengajak warga mendaftarkan unggas piaraannya guna mendapatkan sertifikat tanda sehat bagi unggas dan burungnya.

Batas akhir pendaftaran tanggal 31 Januari 2007. Lewat tanggal itu, unggas yang berkeliaran akan ditangkap. Bila terinveksi virus H5N1, unggas akan langsung dimusnahkan. Pemilik unggas cukup mengambil lalu mengisi blanko ke kelurahan atau kecamatan, sembari menyerahkan fotokopi KTP. Unggas yang dimaksud adalah itik, enthok (bebek), burung puyuh, ayam, angsa dan burung dara.

Burung hias dan berkicau tidak disebutkan dalam jenis unggas yang harus disertifikasi. Namun demikian, tak sedikit warga yang memelihara burung hias dan berkicau terus berdatangan ke kelurahan dan kecamatan di wilayahnya untuk mendaftarkan kepemilikan unggasnya, termasuk para selebritis.

Rudi Choirudin
SUDAH MEMVAKSIN BURUNG KESAYANGAN

Sertifikasi unggas di kawasan DKI Jakarta tak pelak membuat pakar memasak Rudi Choiruddin sedikit panik. Sebab, ia pencinta burung. Tak tanggung-tanggung ia memelihara 150 aneka jenis burung. Ada burung hias, ada pula burung kicau yang sering diikutkan lomba.

Nah, heboh flu burung yang disertai sertifikasi unggas membuat Rudi buru-buru menanyakan soal sertifikasi ke Dinas Peternakan Tangerang, wilayah ia tinggal. Ia kecewa karena Tangerang baru akan mengatur undang-undangnya. "Saya cuma diminta untuk memasukkan datang burung dan unggas piaraan saya ke kecamatan," ujar Rudi yang tinggal di Kompleks DPR Bintaro Jaya, Tangerang, Banten.
KLIK - Detail
Burung yang dikandangkan di rumahnya "hanya" sekitar 50 ekor, selebihnya dititipkan di beberapa tempat. "Sebagian burung yang sering ikut lomba saya titipkan di rumah teman. Soalnya mereka memiliki sifat tempur. Kalau dijadikan satu, rumah akan ramai sekali. Tiba saatnya dilombakan, mereka sudah kecapaian dan enggak mau berkicau lagi."

Untuk merawat semua burung itu, Rudi mempekerjakan perawat burung. Satu orang merawat 15 burung. Berkat perawatan yang bagus, beberapa burung nyaris tiap minggu berhasil jadi juara. Hadiahnya, selain piala juga alat-alat elektronika. "Biasanya, hadiahnya saya jual. Hasilnya bisa menghidupi seluruh burung di sini. Sisanya bisa buat jajan saya," ungkap Rudi yang mengeluarkan Rp 4 juta hingga Rp5 juta setiap bulan untuk membeli pakan burung.

Ketika heboh flu burung merebak, Rudi mengaku takut. Ia juga ngeri bila harus bersinggungan langsung dengan burung- burungnya. "Anjuran pemerintah selalu saya lihat termasuk bagaimana cara pengerjaannya," ujar Rudi yang tidak diprotes tetangga sekitar. Bisa jadi karena perawatan Rudi yang bagus. "Saya sudah memvaksin burung-burung dan unggas, termasuk vaksin H5N1."

Rudi cemas bila tak lagi diperkenankan memelihat burung. Bila itu betul terjadi, perawat burung akan kehilangan pekerjaan. "Di rumah ini saja ada delapan perawat. Belum lagi yang di luar."

Itu sebabnya, andai ada yang mau mengambil burung-burungnya, Rudi akan minta data dan bukti terlebih dulu. "Demi keselamatan dan kesehatan orang banyak, kami pasti akan mengikhlaskan burung kami diambil. Tapi tolong diberi data. Burung mana saja yang terkena virus H5N1. Kalau tidak ada, kenapa harus dimusnahkan?"

Uniknya, Rudi suka memelihara unggas yang kondisinya tersiksa. Ada yang matanya kena sangkutan buah pepaya, kaki patah, bahkan ada yang sudah dinyatakan mati. "Lalu, saya membawanya ke dokter hewan. Setelah diobati dokter, saya merawatnya baik-baik hingga sehat. Biasanya perlu waktu sebulan lebih untuk menjinakkan. Saya memelihara dan merawat mereka sampai mati karena saya ini pencinta binatang sejak kecil."

Dengan perawatan rutin, unggas dan burung-burung piaraannya tetap sehat kendati virus H5N1 akhir-akhir ini mewabah lagi. Selain itu, rupanya Rudi sengaja mendesain rumahnya demi kepentingan binatang kesayangannya. "60 hingga 80 persen rancangan rumah saya ini diperuntukkan bagi binatang piaraan saya. Jadi, sirkulasi udaranya bagus."


| kembali ke atas | print artikel ini | kirim artikel ini
Artikel Lain:

• Mantan Manajer Ratu
• Dhani-Maia-Mulan
• Pesta Nikah Peggy Melati Sukma
• Di Balik Gugatan Korban Senopati
• Kisah Tragis Kasih Tak Sampai
• Duka Keluarga Oloan
• Drama Keluarga Sutrisno-Sumarni
 

Copyright © 2001 www.tabloidnova.com
All rights reserved.