|
|
| |
Best
view with IE 5.5 & Netscape Navigator 6.1 or higher.
|
|
 |
 |
 |
 |

Ucok
Baba 3
TEMUKAN PASANGAN KOMPAK
Dengan usaha yang gigih, Ucok Baba berhasil menikahi gadis pujaannya. Rumah
tangganya begitu bahagia. Kebahagiaan lain, lewat acara kuis sepak bola,
kariernya makin melesat.
Aku tidak salah pilih calon pendamping hidup. Rina, gadis pujaanku, mampu
meyakinkan kedua orang tuanya untuk menerima kehadiranku di tengah keluarga
besarnya. Rina pun siap sedia membantu dan mendukungku untuk meyakinkan
kedua orang tuanya agar merestui hubungan kami.
Melihat kesungguhan dan niat kami yang kuat untuk menikah, akhirnya kedua
calon mertuaku memberi restu kepada kami. Dengan kebahagiaan yang tiada
tara, akhirnya kami menikah dengan sederhana di rumah keluarga Rina di Pasar
Minggu, Oktober 1997 silam. Keluargaku dari Padang Sidempuan tidak bisa
datang semua. Tetapi mereka semua merestui dan memanjatkan doa agar
kehidupan rumah tangga kami baik dan lancar.
Setelah menikah, kehidupan rumah tanggaku belum berangsur-angsur membaik,
meski aku sudah pernah main sinetron sebagai Tuyul di Mody Juragan Kost.
Dengan niat kuat, aku harus bisa menafkahi istri semampuku tanpa memberatkan
atau membebani orang lain. Pantang bagiku untuk menggantungkan hidup kepada
orang lain, apalagi kepada orang tua.
Lalu, kami mengontrak rumah petak kecil yang hanya memiliki satu kamar di
Pasar Minggu. Setiap bulan, aku harus membayar sewa rumah petak sebesar Rp
60 ribu tiap bulan. Terus terang awal kehidupan rumah tanggaku harus kami
lalui dengan cukup berat. Apalagi istriku tidak bekerja.
Untung aku masih terikat kontak main sebagai figuran di beberapa sinetron
komedi. Setiap hari aku jalani syuting sinetron dengan sepenuh hati. Dari
jerih payahku main sientron, berangsur-angsur kehidupanku mulai berubah. Aku
dan istriku mulai bisa mengontrak rumah yang agak luas dari sebelumnya,
masih di Pasar Minggu.
KERAS DIDIK ANAK
Tak lama kemudian, istriku mengandung. Aku sangat bahagia karena sebentar
lagi akan memiliki anak. Selama Rina mengandung, aku jaga betul istri dan
calon bayiku. Sungguh bahagia ketika anak pertamaku lahir dengan selamat.
Aku memberinya nama Ahmad Rizky Batubara. Sayang, kebahagiaanku tak lama.
Aku dan Rina menerima ujian dari Tuhan. Anak pertama kami tak bisa bertahan
hidup lama.
Menurut dokter, Ahmad Rizky mengalami kelainan jantung bawaan. Ia hanya bisa
bertahan hidup dua hari. Aku dan istriku jelas sangat kehilangan. Akan
tetapi, aku tidak boleh marah kepada Tuhan. Aku percaya, di balik musibah
seperti ini pasti ada hikmah baik.
Aku dan istri tak pernah berhenti berdoa kepada Tuhan agar kembali diberi
momongan. Doa kami didengar Tuhan. Setahun kemudian, tepatnya 2 November
2000 istriku melahirkan. Anak kami yang juga laki-laki, kuberi nama Muhammad
Usriano Batubara (6). Kami memanggilnya dengan sapaan Rio.
Setelah Rio, dua tahun kemudian lahir anak perempuanku yang cantik dan lucu,
bernama Septi Aulia Batubara. Kuberi nama Septi, karena anakku lahir tepat
di bulan September 2004 (2,5). Selang dua tahun kemudian, istriku kembali
melahirkan anak laki-laki yang kuberi nama Adamayansyah Batubara (1).
Aku merasa keluarga kami sudah lengkap dengan kehadiran tiga buah hati yang
tumbuh normal, cantik, ganteng, dan lucu-lucu. Aku dan istriku menjalani
kehidupan berumah tangga seperti halnya rumah tangga yang lain. Istriku juga
sangat menghargai aku sebagai kepala keluarga. Ketiga anakku pun sangat
segan kepadaku.
Terus terang, dalam mendidik anak, aku cukup keras. Tetapi bukan asal galak
saja. Aku mewarisi cara ayahku mendidikku dulu sewaktu masih kecil di
kampung. Kedisiplinan sangat aku perhatikan. Misalnya saja anak pertamaku
yang sudah sekolah, harus bisa mengatur waktu belajar dan main. Begitu juga
yang kecil, sudah harus tahu kapan waktunya main, mandi, makan, dan tidur
siang. |
|
|
|
 |
 |
|
 |
|