24 July 2014  13:06 WIB
 
Home | Redaksi | Guest Book | Polling | Mailing List | Newsletter | Daftar Edisi | Chat | Kontak Nova
 

NOVA TERBARU
No. 1044 Thn. XVIII


Dapatkan Segera!
Sirkulasi:
Telp 021-2601666

Kabar Kabur
Dhani-Maia Makin Panas
Ian Kasela
Kabar Kabur Artis
Annisa - Sultan
Profil
Fatma Arief Fianti
 
Best view with IE 5.5 & Netscape Navigator 6.1 or higher.
 

Hotman Paris Hutapea (2)
MAU PAMER MOBIL MALAH MOGOK

Hotman mulus menjalani kariernya. Berbekal keloyalan pada klien, ia menjelma menjadi pengacara papan atas.


KLIK - Detail Lulus kuliah, aku direkomendasi teman dosenku, untuk masuk kantor pengacara OC Kaligis. Dengan tekad bulat, kucari kantor OC Kaligis. Aku naik bus kota. Setelah muter-muter, sampailah aku di kantornya, di kompleks ruko kawasan Glodok. Sambil membawa map lamaran, kumasuki kantornya.

Tak kuduga, Bang OC Kaligis langsung mengatakan, "Minta gaji berapa?" Aku bilang, ya berapa saja Bang. Saat itu di tahun 1982, aku menerima gaji Rp 125 ribu. Aku masih ingat, gaji pertamaku langsung kuhabiskan untuk bersenang-senang bersama pacar. Kami berboncengan naik motor, makan dengan lahapnya di restoran Cina di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur.

Hanya beberapa bulan, aku bekerja di kantor OC Kaligis. Meski sebentar, aku mendapatkan pengalaman yang berarti. Suatu saat OC Kaligis menyuruhku datang ke Pengadilan Negeri Jakarta Timur. Sebenarnya, sih, sidang perkara biasa. Namun, karena inilah pengalaman pertama ikut sidang, kaki ini tak bisa diam. Selalu gemetaran. Ha ha ha.

Tahu enggak, waktu itu sebenarnya tak terjadi perdebatan, hanya menyampaikan berkas dokumen. Tapi, tak bisa dipungkiri, aku stres habis. Begitu stresnya, malam menjelang sidang, aku tak bisa tidur nyenyak. Wah, pengalaman pertama yang menegangkan.

Lucunya lagi, dari kantor OC Kaligis, aku naik bus ke PN Jakarta Timur. Dasi yang harusnya kugunakan, aku selipkan saja di saku. Begitu sampai PN, aku langsung cari toilet. Dasi kembali kukenakan. Setelah itu, aku mulai berani menghadapi orang, bahkan bisa lantang berbicara.

JUAL CINCIN EMAS
Tak lama berkantor di OC Kaligis, aku pindah ke kantor Adnan Buyung Nasution.Tak gampang masuk ke sana. Aku mesti melewati serangkaian tes yang panjang dan mengalahkan banyak pesaing. Padahal, aku masuk ke sana dengan modal tak bisa bahasia Inggris. Tapi, para pengacara di sana tahu betul bakatku.

Baru tiga bulan bekerja di kantor hukum bang Buyung, aku mendapatkan panggilan dari Bank Indonesia, masuk tanpa mengikuti tes. Ini semua berkat prestasiku di masa kuliah. Nah, ketika itu aku berpikir, siapa yang tak mau masuk ke sana? "Aku lihat bangunan Bank Indonesia di Jalan Thamrin itu bangunan dan tiang gede-gede, kalau bekerja di sana pasti uangnya juga besar," begitu pikirku.

Dengan berat hati, kantor Bang Buyung aku tinggalin. Meski saat itu Bang Buyung sempat marah, aku tak hiraukan. Masuklah aku mengikuti pendidikan untuk calon pemimpin di Bank Indonesia di Jalan Juanda. Ternyata, begitu aku mengikuti pendidikan di sana, alam pikiranku tak cocok. Aku pikir, di sana terlalu feodal, terlalu disiplin, seperti tentara. Aku mengalami depresi yang sangat amat berat. Mungkin bisa dikatakan hampir gila kali, ya.

Meski demikian, aku tetap mengikuti pendidikan sampai selesai. Begitu selesai, aku langsung minta cuti. Rasanya aku memang sudah sakit jiwa. Dokter di sana pun merekomendasi aku untuk bisa cuti. Kata dokter, kejiwaaanku sedang terganggu dan perlu istirahat.

KLIK - Detail Di balik rasa stres, ada juga cerita lucu. Semasa dalam pendidikan itu, kalau mau istirahat makan siang, aku dan teman-teman selalu diskusi, mau makan di mana kita? Kalau makan di luar, berarti makan di tenda-tenda kaki lima. Kalau di dalam, ya di restoran Padang yang pasti harganya lebih mahal.

Dibandingkan dengan teman-temanku, aku lebih cuek. Aku sering makan di restoran Padang. Bila pertengahan dan ahir bulan bokek, ya baru makan di tenda-tenda. Nah, teman-teman, untuk makan saja diskusinya bisa lama gitu.

Karena tak bisa hemat, sempat pula aku ngutang dan jual cincin emas di daerah Kwitang. Memang, mengikuti pendidikan di BI itu, buat aku sengsara banget deh. Pusing dan bokek sempat kualami. Dasar tak bisa hemat, selalu saja pertengah bulan dan akhir bulan, aku mengalami krisis keuangan.

MANUSIA NOMOR SATU
Kesempatan cuti kugunakan untuk membuat lamaran kerja. Saat itu target lamaranku ada empat. Yaitu balik lagi Bang Buyung, atau ke kantor pengacara Gani Jemaat, Muctar Karim & Komar, atau ke Makarim dan Taera. Akhirnya aku diterima di Makarim Taera. Saat itu, Doktor Nono Anwar Makarim merupakan salah satu pengacara paling top untuk hukum internasional.

Ketika pertamakali masuk di Kantor Pengacara Makarim, aku hanya punyamodal satu motor bebek. Itu pun aku banga sekali. Sementara karyawan yang lain sudah pada punya mobil dan berpenampilan necis. Ya, namanya pengacara, selalu necis, pakai jas dan dasi. Satu lagi: omong besar kalau sudah ketemu cewek di kantin. Nah, aku juga seperti itu. Kalau masuk kantor dan ngumpul dengan teman-teman, aku selalu tampil rapi. Pakai jas dan dasi selalu tak ketinggalan.

Namun, begitu pulang dari kantor, aku malu sama gadis-gadis yang kugoda itu. Aku yang suka omong besar, kok pulang naik sepeda motor. Makanya sebelum ketahuan mereka, pulangnya aku selalu menutupi wajahku dengan sapu tangan besar. Ha ha ha.

Ketika gajiku sudah jutaan, mulailah aku beli mobil bekas. Aku masih ingat, aku ingin memamerkan mobil bekas itu kepada Bapak yang datang dari daerah. Kala itu, Bapak ke rumah kakakku. Dengan gagah, aku melajukan mobil ke rumah kakak. Naas, mobilku mogok di jalan. Maksudnya mau pamer jadi enggak bisa. Akhirnya aku panggil taksi untuk menarik mobilku. Sesampai di rumah kakak, mobilku diperbaiki Bapak. Bapak, kan, mantan montir. Setengah jam diperbikai mobilku, bisa hidup lagi.

Karierku berjalan bagus. Di tahun 1998, di Makarim Taera itu aku sudah menjadi manusia nomor satu. Jabatanku sudah presiden direktur. Saat itu Pak Makarim sudah pensiun.

Bersamaan dengan itu, suasana di Jakarta sudah sangat gawat, dolar sudah nyaris Rp 20.000. Kerusuhan di mana-mana . Investasi perusahaan asing sudah banyak yang kabur ke luar negeri. Aku berpikir, wah ini bagaimana? Di tempat kerjaku, kan, banyak orang-orang asing. Wah, kantorku dalam kondisi serba sulit. Bisa bubar nih. Aduh, kalau bubar, bagaimana aku harus kasih pesangon bule-bule itu, pasti gede banget.


| kembali ke atas | print artikel ini | kirim artikel ini
 

Copyright © 2001 www.tabloidnova.com
All rights reserved.