31 Oktober 2014  19:33 WIB
 
Home | Redaksi | Guest Book | Polling | Mailing List | Newsletter | Daftar Edisi | Chat | Kontak Nova
 

NOVA TERBARU
No. 1044 Thn. XVIII


Dapatkan Segera!
Sirkulasi:
Telp 021-2601666

Varia Warta
KUNJUNGAN DHARMA WANITA PANGKALPINANG
PERANCANG BALI RAYAKAN HARI KARTINI
KOLEKSI BARU P.S
Temu Media Dengan Movenpick Hotel
ULTAH FIORUCCI KE-40
 
Best view with IE 5.5 & Netscape Navigator 6.1 or higher.
 

Fenomena Lesbian TKW Indonesia di Hongkong
KETIKA SRI BERGANTI BENNY DAN SISWATI JADI AZIZ

Mengagetkan, menyedihkan, dan membuat kita mengelus dada. Tapi itulah kenyataan yang ada di depan mata. Rupanya sejak beberapa tahun ini, tak sedikit dati para TKW Indonesia di Hong Kong yang melakoni hidup sebagai lesbian. Mereka pun tak sungkan-sungkan memperlihatkan kemesraan di depan umum. Bahkan sudah ada yang bertunangan dan menikah, meski ada juga yang mengaku cuma mengikui tren "anak tomboi". Apa yang sesungguhnya terjadi?
KLIK - Detail
"Cinta ini, kadang-kadang tak ada logika..." Itulah sepenggal lagu yang dibawakan Agnes Monica dan yang kini jadi "lagu kebangsaan" para lesbian asal Indonesia yang menjadi tenaga kerja di Hong Kong. "Memang, sih, kalau dipikir-pikir, enggak ada logikanya, ya, Mbak? Masak perempuan suka sama perempuan," celoteh seorang TKW samil terkikik geli.

Ia seperti menertawakan dirinya sendiri, karena hanya beberapa kejap yang lalu ia mengaku dirinya penyuka kaum sejenis. Setelah ngobrol sejenak, ia lalu kembali larut dalam gelak tawa di antara dentum musik yang terdengar riuh dari sebuah ruang karaoke mewah. Persisnya di lantai 8 sebuah gedung pencakar langit di Kota Hongkong. Dalam suasana temaram, puluhan TKW yang berbusana laiknya seorang pria itu itu berkumpul mengelilingi meja penuh hidangan dan dekorasi pesta.

Rupanya siang itu ada tiga TKW yang patungan merayakan ulang tahun. Cuma itu saja? Tentu tidak! Dua dara manis berambut panjang di pojok ruang, tampak duduk berdempetan dengan wajah bahagia. "Hari ini mereka tunangan,' kata salah satu tamu pesta. Hahm tunangan? ya, itulah upacara yang bakal dijalani Indah dan Nisa (bukan nama sebenarnya, Red). Sepasang cincin telah disiapkan, restu dari teman dan wali telah dikantongi. Mereka mantap mengikat janji setelah bertahun-tahun memadu kasih di perantauan. Sambil terus tersenyum dan bertukar pandangan mesra, mereka saling menyematkan cincin disusul tepuk riuh menggema. Acara salam-salamanan pun dimulai. Hari itu pula, mereka resmi jadi anggota komunitas lesbi yang mereka istilahkan "anak tomboi".

KLIK - Detail ANTARA TRAUMA DAN TREN

Pesta yang berlangsung di akhir pekan itu, hari libur para TKW, sejak beberapa tahun belakangan ini memang sudah menjadi pemandangan yang "lumrah". Bahkan tak sedikit di antara pasangan lesbian ini yang sudah naik pelaminan, berikrar menjadi suami-istri. kehadiran mereka pun dengan amat mudah bisa dilihat dengan atribut yang nyaris senada, yaitu rambut pendek, kaus gombrong, celana cargo, aksesoris kulit, ransel, dan piercing.

Di Taman Victoria, salah satu tempat berkumpulnya para TKW indonesia dan juga Filipina, para pasangan lesbi ini bergerombol dan tanpa sungkan mempertontonkan kemesraan mereka. Malah ada yang berciuman segala! Tentu saja sanak sauara di kampung halaman nan jauh di Indonesia, tak tahu-menahu kelakuan mereka. Kalaupun tahu, pasti mereka tak percaya.

Tapi memang begitulah yang terjadi. Fenomena yang membuat kita mengelus dada. Toh, para pelaku cinta sesama jenis ini seperti tak peduli akan pandangan negatif orang lain terhadap mereka. Dengar saja apa kata Chris (34), TKW asal Malang, Jawa Timur, "Habis, kami di sini kesepian. Selain itu, saya juga trauma disakiti pria. Di kampung, saya sudah kawin dan punya satu anak, tapi suami sering menyiksa lahir-batin. Dia suka memukul. Akhirnya saya kabur jadi TKW ke Taiwan lalu setelah dengar suami kawin lagi, saya jadi TKW di Hong Kong."

Chris yang mengaku bernama asli Yeni ini juga bertutur, selain alasan kesepian, trauma pada lelaki, "Ada juga yang sudah bawaannya lesbi. Tapi banyak pula yang cuma ikut-ikutan tren anak tomboi, eh, lama-lama jadi ketularan jadi lesbi betulan."

KLIK - Detail Bukannya Chris tak pernah mencoba memadu kasih dengan pria sejati. "Sempat, sih, pacaran sama orang Pakistan. Kan, di Hong Kong banyak orang Paki (istilah mereka untuk Pakistan, Red.) yang kerja di Hongkong. Tapi mereka cuma mau morotin. Bahkan ada yang sampai dihamili, dapat penyakit kelamin, lalu ditinggal. Susahnya, di sini laki-laki jarang. Jadi, mereka mudah sekali merayu TKW yang kesepian," lanjutnya.

Patah hati, Chris kerap curhat ke sesama TKW. Hingga suatu hari, ia bertemu seorang TKW sekampung yang merasa senasib. Chris lantas berpikir, daripada berhubungan dengan laki-laki tak benar, tak ada salahnya dengan perempuan. "Awalnya kami sembunyi-sembunyi. Ketemu juga cuma hari libur kayak gini. Dua tahun belakangan saya mengaku pada orangtua. Mereka jelas kaget. Tapi lama-lama mereka bisa terima. Saya berhubungan sesama jenis bukan karena seks. Kami merasa sama-sama disakiti. Kami cuma ingin hidup tenang. Buat masa depan, kami sudah punya rumah dan ladang di kampung."

Kalau Chris menyebut dirinya lesbian sejati, tak demikian dengan David (20) alias Ani, TKW asal Pasuruan (Jatim), yang telah dua tahun bekerja di Hong Kong. Sejak tahun silam, David memangkas habis rambutnya, selalu mengenakan kemeja dan celana gombrong, aksesoris pria, serta menggendong ransel. "Jadi lesbi atau tomboi itu, kan, lagi nge-tren. Makanya saya coba ikut-ikutan. Caranya, ya, berpenampilan kayak laki-laki dan ganti nama. Kalau pulang kampung, ya, rambut dipanjangkan lagi. Lagian di sini, kan, jarang sekali laki-laki. Banyak perempuan yang kesepian. Daripada bergaul dengan laki-laki enggak benar, mending dengan sesama perempuan, kan aman," ucap David yang mengaku sebetulnya tak suka berpacaran dengan sesama jenis.

Lantas bagaimana dengan reaksi majikan? "Mereka enggak masalah dengan penampilan kami asal kerjaan beres dan pulang tidak telat," katanya santai.

Benar kata Ani, eh, David, banyak rekannya yang sengaja mengubah penampilan menjadi mirip pria lalu mengganti nama agar terdengar lebih macho. Jadilah Tika berubah sebagai Chandra, Sri jadi Benny, Mita jadi Michael, Siswati jadi Aziz, dan sebagainya. "Yang penting, ikut tren," kata mereka enteng.


| kembali ke atas | print artikel ini | kirim artikel ini
Artikel Lain:

• Ninih Menepis Gosip Cerai
• Komentar Anak-anak Titi-Ovy
• Pernikahan Annisa-Sultan
• Mobil Terjun Bebas, Sekeluarga Tewas
• TAK SEMUA YANG DISAKITI LELAKI JADI LESBI
• Kaki Cacat Akibat Lumpur Panas
• MAKANAN UNIK SERBA BAKAR
 

Copyright © 2001 www.tabloidnova.com
All rights reserved.