24 Oktober 2014  13:59 WIB
 
Home | Redaksi | Guest Book | Polling | Mailing List | Newsletter | Daftar Edisi | Chat | Kontak Nova
 

NOVA TERBARU
No. 1044 Thn. XVIII


Dapatkan Segera!
Sirkulasi:
Telp 021-2601666

Varia Warta
KE PABRIK KEJU BARENG KLUB NOVA
FORMULA ANTIKERING PEWARNA RAMBUT
INSPIRASI 9 TOKOH WANITA
CINTA ANAK-ANAK ALA ZIDANE
 
Best view with IE 5.5 & Netscape Navigator 6.1 or higher.
 

Perjalanan Hidup Taufik
PERNAH SELAMAT DARI KECELAKAAN MOBIL

Langkah Taufik Savalas untuk menjadi komedian hebat, penuh onak dan berliku. Kerja serabut sebagai pencuci piring, pengamen, tukang semir sepatu, hingga kuli angkut dilakoninya dengan tabah. Setelah berhasil, ia tak lupa dengan keluarganya yang hidup pas-pasan. Tak heran, jika diakhir hayatnya Taufik disayangi banyak orang.

KLIK - Detail Mochammad Taufik, demikian nama asli anak keenam dari pasangan Mochammad Yusuf-Rukasih ini. Taufik yang lahir pada 9 Juni 1966 ini tumbuh besar di daerah Jembatan Lima, Jakarta Barat. Meski selalu ceria, masa kecil Taufik tidak indah untuk dikenang. Bersama 8 saudaranya (anak pertama dan kelima meninggal) Taufik tinggal di rumah 3 x 4 meter. Begitu sempitnya, hingga dapur tempat Rukasih memasak ada di samping ranjang.

Siang hari, udara di dalam rumah terasa panas. Bila malam datang, Taufik dan saudaranya tidur dengan kaki tertekuk, karena terbatasnya ukuran ranjang. Segala keterbatasan itu mereka lalui sampai beranjak dewasa.

Karena hidup keluarganya pas-pasan, Taufik sudah berusaha mencari uang sendiri sejak kelas 5 SD. Ia melakukan apa saja, dari menjaga sandal dan sepatu di masjid dekat rumah tiap salat Jumat, menjadi tukang semir sepatu di daerah Glodok, mencuci mangkuk tukang bakso, menempel label pada botol minuman, hingga kerja meluruskan paku di daerah Pasar Pagi.

KLIK - Detail Walau giat bekerja, Taufik masih punya waktu bermain. Di kalangan temannya Taufik disenangi karena banyolannya. "Aku sendiri heran, tiap aku ngomong apa pun, enggak di rumah enggak di sekolah, orang selalu terkekeh-kekeh. Mungkin karena cerita dan gaya bicaraku. Padahal niatku bukan melucu," kisah Taufik suatu ketika. Oleh karenanya Taufik pun sering didaulat melawak di acara perpisahan sekolah dan perayaan 17 Agustus-an.

Taufik mendapat sebutan Taufik Savalas saat SD, karena kepalanya yang plontos seperti Telly Savalas (pemeran detektif botak dalam film Kojak di TVRI yang ngetop tahun 70-an). "Jadi nama Taufik Savalas itu awalnya dari teman-temanku. Bayangkan, sudah puluhan tahun aku memakai nama itu. Ayahku sampai protes, kenapa nama pemberian orang tua malah enggak dipakai. Aku bilang saja bahwa nama ini membawa hoki," kata Taufik.

Jadi Asisten Warkop & Bagito
Sampai duduk di bangku SMU, Taufik terus melawak mesti masih bersifat hobi. Urusan belajar pun jadi agak terlantar. Bayangkan, setiap ke sekolah ia tak pernah membawa buku. Di sekolah Taufik terkenal sebagai siswa yang kerap bikin onar. "Walaupun begitu, saya selalu dirindukan teman-teman. Karena kalau enggak ada saya, enggak ada keramaian dan yang ditertawakan," masih kata Taufik.

KLIK - Detail Akhirnya, setelah lulus SMA tahun 1986 barulah Taufik bingung menentukan masa depannya. Mencari pekerjaan formal pun sulit. Selama menganggur, Taufik jadi jarang pulang ke rumah, karena malu bertemu keluarga dan tetangga. Taufik lebih sering menginap di rumah teman-temannya dan bekerja serabutan.

Taufik membuat kerajinan tangan, mengamen, kondektur, kuli angkut sound system hingga membetulkan genteng tetangga. Sempat terbersit rasa sesal dalam dirinya mengapa semasa SMA ia begitu bandel.

Tak disangka, kiprahnya di acara 17 Agustus-an di Klender, Jakarta Timur, membuka jalan Taufik ke panggung hiburan. Taufik ditunjuk panitia menjadi MC, lantaran MC-nya berhalangan datang. Walaupun kelas kampung, acara itu berhasil mendatangkan Iwan Fals. Taufik pun dinilai sukses memandu acara itu dengan selingan banyolannya.

KLIK - Detail Setelah itu, Taufik dipanggil oleh pihak Taman Mini Indonesia Indah (TMII) untuk menjadi MC setiap hari Minggu. Padahal sebelumnya Taufik datang ke TMII hanya untuk menggotong-gotong sound system.

Taufik amat bersyukur mendapat pekerjaan baru ini. Waktu itu penghasilannya Rp 7.500, ditambah nasi bungkus dan air putih. "Untuk tambah-tambah penghasilan, aku masih mengangkuti sound system.

Seminggu, aku bisa mengantungi Rp 12.500. Sudah cukup untuk hidup zaman itu," kata Taufik sambil mengenang. Walaupun sudah punya penghasilan, Taufik enggak pernah makan daging. "Bukannya pantang, tapi karena memang ngirit abis. Ha ha ha..."

Begitulah, Taufik mulai rutin menjalani profesi MC tiap akhir pekan, ditambah kerja serabutan di hari lain. Di acara yang digawangi di TMII itu Taufik mulai mengenal sejumlah artis, di antaranya Kristina "Dangdut" yang masih kecil, Novia Kolopaking, juga almarhumah Nike Ardila.


| kembali ke atas | print artikel ini | kirim artikel ini
Artikel Lain:

• Curahan Hati Istri & Anak Taufik Savalas
• Ibunda Taufik
• Detik-Detik Kepergian Taufik
• Bocah Korban Mutilasi
• Liburan Berujung Maut
• PEDAS SAMPAI TANDAS
• Peralatan Sekolah
• Sentra Kristal dan Keramik di Belawan
 

Copyright © 2001 www.tabloidnova.com
All rights reserved.