30 July 2014  19:18 WIB
 
Home | Redaksi | Guest Book | Polling | Mailing List | Newsletter | Daftar Edisi | Chat | Kontak Nova
 

NOVA TERBARU
No. 1044 Thn. XVIII


Dapatkan Segera!
Sirkulasi:
Telp 021-2601666

Kabar Kabur
Ian Kasela
Raihaanun
Marcelino
Kisah
Surya Saputra (2)
 
Best view with IE 5.5 & Netscape Navigator 6.1 or higher.
 

Lala Hamid
PENGALAMAN PAHIT MEUTHIA KASIM MEMBUATNYA SADAR.

Beragam peran di dunia hiburan sudah dilakoni wanita berusia 45 tahun ini. Mulai dari menggelar acara, direktur program teve, sampai menjadi produser film. Kini menggawangi sebuah rumah produksi, De Pic, ia semakin bebas berkreasi menggarap program-program yang disukainya.

KLIK - Detail Sudah lama Anda tertarik menggeluti dunia hiburan?
Benar. Dulu, semasa remaja saya sudah senang dengan dunia hiburan. Saya banyak menghabiskan waktu buat nonton film dan mendengarkan musik. Selain itu, saya juga suka menulis untuk beberapa majalah seperti Hai dan Gadis. Hal itu membuat saya pengen bekerja di bidang kreatif dalam dunia hiburan. Memang, sih, kesukaan saya itu berseberangan dengan background pendidikan saya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Saya pengen bekerja di bidang yang saya suka. Semula orang tua keberatan. Pada waktu itu (1980-an) industri hiburan belum banyak menjanjikan seperti saat ini. Akhirnya ayah bilang, kalau saya memang ingin terjun ke dunia hiburan, lebih baik memilih menjadi star maker (pencetak bintang) dan bukan star-nya. Alasannya, di Indonesia siklus seorang bintang biasanya enggak lama. Sementara seorang pencetak bintang akan bertahan lebih lama.

Apa pintu pertama yang Anda masuki di dunia hiburan?

Ketika masih duduk di bangku SMA, saya sering menggelar pergelaran teater, musik, dan pameran lukisan. Kegiatan ini berlanjut hingga saya kuliah. Saya ikut mengatur acara musik Jazz to Campus. Di sinilah saya merasa benar-benar meniti karier dalam dunia hiburan. Tahun pertama saya menjadi anggota seksi dana, hingga tahun keempat saya bisa menjadi ketuanya. Dan, tahun kelima saya menjadi MC-nya. Ha...ha...

Namun, saya tetap konsisten dengan kuliah. Saya juga merasa perlu tetap bekerja di bidang lain untuk menunjang hidup. Saya pernah kerjasama dengan kakak di bidang interior. Lalu, saya beralih dengan bekerja di Jakarta Design Center (JDC), lalu pindah ke PT Bangun Cipta. Di Bangun Cipta inilah saya bertemu dengan calon suami, Wahyu Hardianto. Setelah menikah, saya memutuskan untuk keluar dari tempat kerja.

Tak lama kemudian, saya mendapat tawaran dari salah satu sahabat, Trie Sudwikatmono untuk membantunya membuat sebuah perusahaan entertainment. Pada waktu itu saya mendapat kesempatan menggelar konser Bon Jovi.

KLIK - Detail Apa pengalaman menarik menggelar konser sekelas Bon Jovi?

Memang ada beberapa tantangan yang harus dihadapi. Dengan audience 200 ribu orang dan lokasi konser di Ancol, sempat membuat stres. Tapi, saya senang melakukannya. Apalagi Bon Jovi adalah salah satu artis pujaan saya. Selama menangani bisnis pertunjukan, yang terberat mungkin saat kami menggelar grup musik Green Day di Balai Sidang Senayan Jakarta pada tahun 1997.

Rupanya, antusiasme masyarakat sangat besar. Tiket yang tersedia langsung sold out. Nah, orang-orang yang tak mendapat tiket merasa tak puas. Tingkah laku mereka jadi liar. Mereka melakukan aksi brutal dengan melempari bangunan gedung pertunjukan yang berkaca. Wah, repot memang, tapi dengan kerjasama tim yang kompak kami berhasil mengatasi hal tersebut dengan baik.

Bagaimana perjalanan karier Anda selanjutnya?
Lepas dari perusahaan Sudwikatmono, saya mendapat peluang untuk bekerja dengan Leo Sutanto yang pada waktu itu masih menggawangi Indika Entertainment. Selanjutnya, saya mendapat kesempatan bergabung dengan Sony Music (Sony BMG Music) sebagai direktur marketing. Selama tiga tahun di tempat ini, saya belajar pada sebuah perusahaan internasional yang mengelola entertainment sebagai sebuah industri besar.

Begitu banyak pengalaman berharga yang saya dapat, di antaranya adalah bertemu dengan artis-artis luar negeri yang sebelumnya hanya bisa kita lihat di layar teve. Peran sebagai direktur marketing memberi saya kesempatan untuk melakukan perjalanan ke luar negeri. Biasanya, sih, untuk menghadiri acara-acara besar Sony atau party yang diadakan oleh artis yang bernaung di bawah Sony Music.
KLIK - Detail
Pada saat itulah saya bisa mengenal secara lebih dekat artis-artis pujaan banyak orang seperti Jennifer Lopez (J. Lo) dan Mariah Carey. Wah, rasanya tentu saja benar-benar menyenangkan. Di saat orang lain hanya bisa menatap mereka lewat layar kaca, saya justru bisa bertatap muka dan berkomunikasi langsung.

Lalu, kenapa Anda malah keluar?
Ketika Pak Leo mendirikan Prima Entertainmet (PE), beliau meminta saya untuk kembali bergabung bersamanya. Ia pun minta izin pada pimpinan saya di Sony Music, Sutanto Hartono. Nah, baru setahun di sana, ternyata ada masalah dalam tubuh PE. Pak Leo pun memilih untuk berdiri sendiri di bawah bendera Sinemart. Saya pun ikut Pak Leo. Sebab, saya merasa cocok bekerja bersamanya. Ia adalah tipe orang yang pandai menggabungkan sisi kreativitas dan komersial dengan sebuah idealisme. Hingga saat ini beliau adalah salah satu guru saya dalam dunia film.

Belum lama di Sinemart, saya pindah ke RCTI sebagai direktur program. Tawaran tersebut datang langsung dari Harry Tanoesudibyo pada tahun 2003. Hampir semua pengalaman yang saya dapat sebelumnya sangat membantu perkembangan karier saya di RCTI. Hanya saya saja mulai menemukan ketidakseimbangan hidup di tempat ini.


| kembali ke atas | print artikel ini | kirim artikel ini
 

Copyright © 2001 www.tabloidnova.com
All rights reserved.