24 July 2014  17:45 WIB
 
Home | Redaksi | Guest Book | Polling | Mailing List | Newsletter | Daftar Edisi | Chat | Kontak Nova
 

NOVA TERBARU
No. 1044 Thn. XVIII


Dapatkan Segera!
Sirkulasi:
Telp 021-2601666

Varia Warta
PELUNCURAN NEW MANDALA
WISATA YOGYAKARTA BERSAMA KLUB NOVA
IKON BARU 24 JAM
BUKA BERSAMA LOPER
 
Best view with IE 5.5 & Netscape Navigator 6.1 or higher.
 

Cemal Cemil
DUA IBU MENJUAL MASA LALU

Ingat permen cecak atau mainan congklak? Jajanan dan mainan tempo doeloe ini jadi bisnis sampingan yang dikelola dua ibu. Sambil usaha, mereka bisa menghilangkan stres.
KLIK - Detail
Sebuah toko mungil, namanya Cemal Cemil (CC), di kawasan Kemang Selatan, Jakarta Selatan sungguh unik. Di sana dijajakan jajanan tempo dulu. Ada aneka permen yang sekarang sudah langka seperti permen cecak yang ditata dalam kaleng kerupuk ukuran mini, permen rokok, cokelat payung, cokelat jago, atau permen karet yang bentuknya bulat. Ada pula kue kuping gajah, cafenoir, safari. Lebih unik lagi, dipajang pula mainan anak zaman lalu seperti gasingan, kitiran dari kertas, wayang dan gamelan mungil, truk kayu, dakocan, yoyo, ludo, ular tangga, dan masih banyak lagi.

CC awalnya dikelola oleh tiga wanita, Yeany Dahlan (34), Eby Karsono (38), dan Satyorini. Namun, belakangan ini Rini untuk sementara mengundurkan diri karena punya momongan. "Ide ini muncul saat itu kami sedang makan di sebuah rumah makan baru di kawasan Kemang. Kami lihat rumah makan itu merupakan sebuah areal yang di belakangnya ada pondok-pondoknya. Kami tanya, pondok itu untuk jualan," kisah Yeany saat ditemui di tokonya.

Dari situ muncul ide untuk jualan di sana. "Laku enggak ya kalau jualan makanan kecil tapi yang sifatnya nostalgia, misalnya kue safari yang waktu mereka kecil dulu bentuknya macam-macam binatang? Lalu, susah enggak ya mendapatkannya?" Begitu lontaran ide mereka. "Dari situlah kami sepakat untuk usaha sampingan jajanan nostalgia. Kebetulan kami sama-sama sudah bekerja di sebuah perusahaan periklanan," imbuh Yeany.

KLIK - Detail MASUKAN PENGUNJUNG
Langkah awal, tiga sekawan ini mendata jajanan yang akan dijual, sekaligus mencari informasi di mana bisa mendapatkannya. Mulailah di akhir minggu ketika libur, "Kami hunting mencari informasi. Sebagian kami dapat di daerah Jatinegara, Bogor, Cileungsi, Bandung dan lain-lain,"papar Yeany.

Eby menambahkan, banyak cerita seru saat berburu. Mereka banyak menemukan jajanan masa kecil yang ternyata masih ada di daerah pinggiran. Ingatan masa kecil rasanya muncul kembali. Tidak hanya itu, "Kami temukan juga mainan anak-anak zaman dulu, yang unik-unik. Ada congklak, kapal tuk-tuk, wayang kecil, gasing, dan masih banyak lagi. Lalu, terpikir untuk melengkapi usaha kami dengan mainan anak zaman dulu."

Setelah berburu, "Kami semakin terbuka. Banyak informasi kami peroleh di mana saja masih kami temukan makanan lain yang unik-unik, sampai akhirnya item untuk mengisi kios tercukupi," ungkap Yeany.

Begitulah dengan modal awal Rp 60 juta yang dibagi tiga, sudah termasuk menyewa kios, mereka menjalankan usaha. Kios resmi dibuka Mei 2003. Ruangan mereka display dengan menarik, yang menggambarkan suasana masa lalu. "Untuk wadah, kami menggunakan tampah, tenggok, dan kaleng kerupuk. Awalnya ada sekitar 30 item dagangan kami," ujar Yeany.

KLIK - Detail Karena mereka bertiga kerja kantoran, kios dikelola karyawan. Di akhir pekan, barulah mereka mengunjungi kios sekaligus menatanya. Dari situ, mereka tahu tanggapan pengunjung yang begitu antusias. "Kami pun menerima banyak masukan dari mereka untuk melengkapi toko kami," kata Yeany.

Ibu satu anak ini pun bersama temannya berburu lagi makanan dan mainan yang unik. Ketika libur, "Kami bersama-sama, sekaligus mengajak keluarga, ke luar kota. Beberapa pasar tradisional di Solo dan Yogyakarta didatangi. Pelan-pelan, show room kami lengkapi, sampai sekarang sudah ada lebih dari seratus item," ujarnya.

"Tapi, memang pelan-pelan. Enggak bisa langsung dapat banyak," imbuh Eby. Apalagi, lanjutnya sambil tersenyum, "Kami sering menghadapi pedagang kecil di daerah yang kerjanya memang santai. Misalnya suatu saat kami bertemu dengan kakek-kakek yang jualan mainan kuda-kudaan di Pasar Beringharjo. Setelah barangnya kami borong dan kami mau pesan lagi, dia bilang mau istirahat dulu dan pulang kampung."


| kembali ke atas | print artikel ini | kirim artikel ini
Artikel Lain:

• Syaiful Jamil
• Dude Harlino
• Melongok THR Pembantu Artis
• ANAK PENGEMIS DICULIK PENGEMIS
• WISATA JAJANAN SEMARANG DI MALAM HARI
 

Copyright © 2001 www.tabloidnova.com
All rights reserved.