24 July 2014  08:28 WIB
 
Home | Redaksi | Guest Book | Polling | Mailing List | Newsletter | Daftar Edisi | Chat | Kontak Nova
 

NOVA TERBARU
No. 1044 Thn. XVIII


Dapatkan Segera!
Sirkulasi:
Telp 021-2601666

Varia Warta
Kreasi Aksesoris MOVA di Tambun
Rute Baru Jakarta – Bangkok
KAMPANYE HARI AIDS SEDUNIA
DEMO MASAK NOVA DI KOMPAS GRAMEDIA FAIR
KUNJUNGAN KE DESA PERCONTOHAN GSI
NATAL DI NEGERI SINGA
LULUSAN KE-37 PUSPITA MARTHA
WHITE CHRISTMAS & ANIMATRONICS
 
Best view with IE 5.5 & Netscape Navigator 6.1 or higher.
 

Nila Fitria, Pembunuh Suami
MASIH WASWAS MESKI SUDAH BEBAS

Ingat peristiwa yang menimpa Nila Fitria (26), gadis asal Surabaya yang demi membela diri terpaksa membunuh kekasihnya? (NOVA 1027). Setelah polisi melakukan serangkaian pemeriksaan, ia akhirnya dibebaskan. Ditemani orangtuanya, pasangan Suama dan Maschut, ia mengungkapkan isi hatinya kepada NOVA, Jumat (30/11) di rumahnya Jalan Bibis Tama, Surabaya.

KLIK - Detail Sungguh aku seolah tak percaya sudah benar-benar bebas. Rasanya semua bagaikan mimpi.. Jujur saja, pembebasan ini sama sekali tak pernah kuduga sebelumnya. Memang, semua ini kulakukan semata-mata demi membela diri. Aku mendapat kabar akan dibebaskan dari pengacaraku, Pak Atet. Aku diminta bersiap-siap karena keesokan harinya bakal menghirup udara bebas.

Selama ini, aku berada di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara, Surabaya, untuk mendapat perawatan medis maupun kejiwaan setelah mendapat kekerasan fisik dan psikis sebelum pembunuhan itu terjadi. Aku baru benar yakin telah bebas, setelah polisi menjemputku dari RS dan membawaku ke Mapolwil, Surabaya. Di Mapolwil, aku mendapat surat keterangan bebas.

Seperti yang kuutarakan, rasa percaya dan tidak berkecamuk jadi satu. Tanpa terasa aku menangis haru. Peristiwa ini merupakan yang terberat sepanjang hidupku. Mudah-mudahan, tragedi ini merupakan yang pertama dan yang terakhir bagiku.

Maklum, selama “ditahan” di rumah sakit, aku setiap hari melihat perkembangan kasus yang menimpaku. Dalam pemberitaan di media, aku terancam hukuman 15 tahun penjara. Tentu perasaanku kalut tak karuan. Di tengah kekalutan, aku memikirkan nasib kedua anakku Mohamad Yunus (3) dan Shafira (10 bulan) jika aku harus meringkuk dipenjara dalam waktu lama.

Apakah mungkin aku kuat berpisah sekian lama dengan buah hatiku? Kan tidak mungkin kedua anakku diajak menjenguk ibunya berada di balik jeruji besi karena bisa menganggu perkembangan jiwanya kelak. Sungguh aku bersyukur, kekhawatiranku tak terjadi. Rasanya semua bagai mimpi. Sebagai ungkapan syukur, ibuku langsung membuatkan bubur merah yang dibagi-bagikan pada tetangga rumah.

SELALU GELISAH

Memang kuakui, sejak awal tak ada niatan untuk membunuh Agus, mantan kekasihku itu. Semua itu kulakukan tanpa perhitungan terlebih dahulu. Aku benar-benar kepepet saat mendapat siksaan batin dan fisik dari Agus di pagi buta pada bulan Oktober lalu.

KLIK - Detail Sekadar mengingatkan, sungguh aku merasa ketakutan di hari yang masih gelap itu, Agus mengetuk pintu kosku. Agus yang anggota TNI AL itu minta agar aku segera membukakan pintu. Kalau tidak, dia akan memaksaku dengan sangkur di tangannya. Dengan perasaan ketakutan, aku terpaksa membuka pintu. Dan sudah kuduga sebelumnya, setelah itu dia menerobos ke kamar dan menghajarku. Aku berkali-kali terjungkal di kamar yang sempit itu

Bahkan, dia juga mengeluarkan sangkur dari balik bajunya. Sangkur itu melukaiku hingga tanganku berdarah-darah. Sudah begitu, dia membenturkan kepalaku ke tembok. Meski sudah berteriak minta tolong, tetap saja tak ada yang berani membantuku.

Aku diseret dalam keadaan tak berdaya. Bajuku yang telah compang-camping ditarik hingga lepas, membuat separuh badanku dalam keadaan telanjang. Saat itulah aku seolah mendapat kekuatan untuk melawan. Aku bisa menarik sangkur di pinggangnya. Secepat kilat, sangkur kutancapkan dan persis mengenai ulu hatinya. Selang beberapa menit kemudian dia mengembuskan napas terakhir.

Selama dalam proses penahanan, aku selalu gelisah. Kenapa semua ini mesti terjadi? Aku sadar, dia terus mengejarku meski aku sudah bersuami, karena dia mencintaiku. Dia tak mau kehilangan aku. Hanya saja, rasa sayang itu sangat berlebihan dan merugikanku. Ya, sebelum bertemu dengan suamiku, aku sempat menjalin asmara dengan Agus sekitar 9 bulan.

Dia memang menyayangiku. Tapi yang membuatku meragukan kesetiaannya, setiap kali kuajak untuk menikah, dia selalu menolak dengan berbagai alasan. Bahkan dia pernah mengucapkan kalimat, cinta tak harus memiliki. Di saat kesetiaannya tak dapat dipertanggungjawabkan itulah aku mengenal Zamroni. Akhirnya, kami menikah. Meski begitu, Agus terus mengejarku sampai peristiwa itu terjadi.


| kembali ke atas | print artikel ini | kirim artikel ini
Artikel Lain:

• Menghitung Hari Ala Iyek & Fachry
• Mike Wakil ke Asian Idol
• Panasonic Awards 2007
• Sarah Vi Menjawab
• CERITA TENTANG ANAK TERBUANG
• Satu Keluarga Tewas Terbakar
• AWAS, DIARE KEMBALI MENYERANG
• PADUAN FASHION & SENI BALI
 

Copyright © 2001 www.tabloidnova.com
All rights reserved.