22 November 2014  19:38 WIB
 
Home | Redaksi | Guest Book | Polling | Mailing List | Newsletter | Daftar Edisi | Chat | Kontak Nova
 

NOVA TERBARU
No. 1044 Thn. XVIII


Dapatkan Segera!
Sirkulasi:
Telp 021-2601666

Kabar Kabur
Mario Lawalata
Rossa
Dewi Persik
Kisah
Dude Harlino (1)
 
Best view with IE 5.5 & Netscape Navigator 6.1 or higher.
 

Septi Peni Wulandani
JARIMATIKA BIKIN MATEMATIKA LEBIH MENYENANGKAN

Semula ia dikira gila karena selalu memakai baju kerja di rumah. Tapi wanita kelahiran Salatiga 21 September 1974 ini bisa membuktikan, dari rumah ia bisa juga berkarya. Bahkan temuannya kini sudah menyebar ke seluruh Indonesia.

KLIK - Detail Bagaimana ceritanya Anda ”menemukan” jarimatika?
Ceritanya, tahun 1996 saya memutuskan memilih menjadi ibu rumah tangga. Sebelumnya, saya bekerja sebagai PNS dan ditempatkan di Semarang. Itu sudah enak banget karena dekat dengan keluarga di Salatiga. Pada saat bersamaan, saya menikah dan kemudian hamil anak pertama. Akhirnya, saya putuskan ikut suami yang bekerja di Jakarta dan full jadi ibu rumah tangga.

Ternyata jadi ibu rumah tangga berat banget. Banyak yang nanya, sekolah tinggi-tinggi, kok, cuma jadi ibu rumah tangga. Belum lagi pertanyaan dari teman-teman suami. Saya pikir, ini harus diubah. Ibu rumah tangga itu profesi yang luar biasa. Saya akan membuatnya menjadi sebuah profesi yang profesional. Saya pun mulai ”bekerja” di rumah di kawasan Depok. Rumah saya anggap sebagai kantor, sebagai perusahaan saya.

Saya sempat dianggap gila sama tetangga di rumah karena memakai baju kerja di rumah. Bahkan, kalau ada tetangga yang datang mengajak ngerumpi, saya tolak. Saya bilang, saya sedang bekerja. Nanti, jam 2 saat istirahat, saya akan datang ke rumah mereka. Saya melihat, banyak ibu yang profesional hanya di tempat kerja, tapi ketika di rumah mengurus dan mengajar anak tidak profesional lagi, karena sudah capek. Padahal, yang berhak mendapat kecantikan, senyum, dan profesionalisme kita adalah anak dan suami, bukan sebaliknya.

Apa saja yang Anda lakukan dengan ”baju kerja” Anda?

Banyak sekali. Kalau sebelumnya saya cuma bingung mikirin belanja apa hari ini, setelah pakai baju kerja, banyak sekali yang saya kerjakan di rumah. Salah satunya mengajari anak berhitung. Sebelumnya, saya juga mengajari anak membaca. Anak pertama saya, Nurul Syahid Kesuma atau Enes (11), sudah lancar baca koran dan Quran di usia 2,5 tahun lewat metode yang juga saya ciptakan sendiri.

KLIK - Detail Soal berhitung, hampir semua metode berhitung saat itu saya uji coba ke Enes. Tapi, tidak ada yang tepat. Enes itu sukanya jalan, tidak bisa duduk manis. Saya perhatikan, ia paling senang menggunakan jari. Saya pikir, kenapa enggak menggunakan jari untuk berhitung. Jari sangat familiar dengan anak-anak, selain juga sederhana.

Setelah itu, mulailah saya merumuskan satu per satu pola berhitung dengan jari. Setiap kali ketemu satu pola sederhana, saya berikan ke Enes. Ternyata dia senang. Begitu seterusnya. Tiga tahun saya merumuskan konsep jarimatika, saya tuliskan semua pengalaman menemukan rumus berhitung dengan jari itu.

Kemudian?
Setelah itu, setiap kali keluar rumah, saya pilih naik kereta atau angkot. Setiap ketemu orang, saya kasih kartu nama saya dan saya kenalkan diri saya, ”Saya ibu rumah tangga profesional, saya memiliki jarimatika.” Begitu mereka tanya, apa sih, jarimatika, barulah saya masuk. Proses memperkenalkan jarimatika itu berlangsung setahun lebih, tahun 2003-2004. Sampai akhirnya ada penerbit yang menawarkan untuk membukukan jarimatika saya tahun 2005. (Sudah empat buku tentang Jarimatika yang ditulis Septi).

Setelah dicetak, ternyata responsnya luar biasa. Banyak pembaca menelepon, meminta dilatih. Ternyata, membaca saja tidak cukup. Mereka minta diberi tahu cara mengajarkannya ke anak. Ada juga yang bilang, selama ini tidak punya kegiatan. Ketika menemukan buku saya, seharian mereka habiskan bersama anak-anak mereka. ”Saya bangga ternyata saya bisa,” begitu kata mereka.

Akhirnya, saya memberikan pelatihan di Cibubur tahun 2005. Saya kumpulkan ibu-ibu pembaca buku saya. Ternyata, di pelatihan itu semua bilang jarimatika menyenangkan, gampang, dan enak. Saya bilang, indikator jarimatika sukses itu adalah putra-putri ibu. Setelah anak-anak ibu sukses, baru dengan anak-anak lain. Saya sarankan sepulang dari pelatihan, terapkan ke anak-anak.

Ternyata, setelah dipraktikkan, mereka bilang, boleh enggak buka kursus. Saya pikir, iya ya, kenapa tidak? Akhirnya mulailah mereka ini menyulap garasi rumahnya, ruang tamunya yang kecil menjadi tempat kursus. Sejak itu mulailah berdatangan anak-anak ikut jarimatika.

Sebelumnya pernah kepikiran bakal seperti itu?
Sama sekali tidak terpikir bakal meluas. Alhamdulillah, kini sudah ada 60 cabang (setingkat kabupaten/kotamadya) Jarimatika dari Aceh sampai Papua. Hampir di setiap kota besar ada. Setiap cabang punya 10-15 unit (setingkat kecamatan). Cabang ini mengkursus ibu-ibu dan ibu-ibu ini membuka kursus di rumah mereka. Akhirnya, ada yang buka untuk anak-anak.


| kembali ke atas | print artikel ini | kirim artikel ini
 

Copyright © 2001 www.tabloidnova.com
All rights reserved.