20 Oktober 2014  20:28 WIB
 
Home | Redaksi | Guest Book | Polling | Mailing List | Newsletter | Daftar Edisi | Chat | Kontak Nova
 

NOVA TERBARU
No. 1044 Thn. XVIII


Dapatkan Segera!
Sirkulasi:
Telp 021-2601666

Varia Warta
Mova Bahas Anthurium
KONSER KEAJAIBAN CINTA POND’S
PENGHARGAAN ANTI KECOLONGAN
KONSEP BELANJA MUDAH & NYAMAN
REKOR SELAM ESTAFET
PELATIHAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN
DISKUSI & DEKLARASI WARTAWAN FILM
 
Best view with IE 5.5 & Netscape Navigator 6.1 or higher.
 

Bisnis Anthurium di Jawa Timur
OPTIMIS MASIH TETAP AKAN BERTAHAN

Anthurium masih jadi primadona. Di Jawa Timur pun banyak orang yang melirik bisnis ini. Bagaimana cerita mereka?

KLIK - Detail Sosok tanaman anthurium tak hanya ramai di Jawa Tengah dan Jakarta saja. Jawa Timur pun ikut meramaikan anthurium yang terkenal dengan sosok daunnya yang elok dan gagah ini. Tengok saja pameran yang diselenggarakan di halaman Mitra 10 Menganti Wiung Surabaya minggu ini. Meski Anthurium Gelombang Cinta harganya sedang turun di pasaran, banyak pembeli yang masih mencari tanaman ini. “Banyak, kok, yang masih mencari Gelombang Cinta. Memang, sih, pembelinya tak sebanyak di pameran lain,” tutur Harsono dari Tukul Kebon Bunga Surabaya.

Djoko Sutarto (46), Humas P2TH (Paguyuban Pedagang Tanaman Hias) sekaligus pemilik Daoen Nursery Surabaya menambahkan, peta anthurium memang mengalami masa penurunan di Surabaya. “Kalau ada pemain baru, jangan mencoba di anthurium dulu karena harganya masih enggak pas. Tapi, saya memperkirakan, anthurium tetap disenangi asal ada penyesuaian harga. Apalagi anthurium begitu anggun, gagah, yang tidak dipunyai tanaman lain,” tutur Djoko seraya mencontohkan, Supernova yang harganya berkisar Rp 400 ribu jadi tak wajar karena dijual Rp 12 jutaan.

STRES KARENA TANAMAN
Rasa optimis juga disampaikan Gembong Kartiko (48), Konsultan Pemetaan dan Manajemen Green & Grow, Pot Plant and Nursery Surabaya. Senada dengan Djoko, Gembong juga merasa perlu adanya standarisasi harga. Itu sebabnya, awal tahun 2008 Gembong dan rekan-rekannya akan membentuk Komunitas Anthurium dengan agenda masalah standarisasi harga. “Kami ingin harga bibitan terjangkau semua lapisan masyarakat. Bayangkan kalau harga bibit saja sudah mencapai Rp 500 ribu siapa yang mau beli?”
KLIK - Detail
Agenda lainnya adalah membuat sertifikat identifikasi nama. Misalnya, bagaimana ciri Anthurium Cobra. “Kalau tidak tahu, malah jadi polemik dan rancu di pasaran. Misalnya, Jenmanii itu terbagi tiga yang dilihat dari bentuk daunnya, lancip, oval, dan bulat. Anthurium Sendok masuk daun oval, King Cobra yang bulat. Kadang banyak yang mengira-ngira sendiri,” papar Gembong yang sering menjadi juri tanaman hias.

Hanya saja, Gembong mengingatkan, di balik kesuksesan meraup keuntungan dari anthurium, perlu ada yang diwaspadai dari bisnis ini. “Ada beberapa orang yang mencoba berspekulasi, akhirnya malah jatuh. Ada yang stress, bahkan sampai meninggal. Ini warning bagi pebisnis anthurium. Sebaiknya pelajari dulu sosok anthurium, jangan terburu-buru.”

Gembong mencontohkan, di Surabaya sebulan lalu ada yang meninggal gara-gara menjual kendaraan Rp 15 juta, lalu dibelikan Jenmanii. Ternyata, menurut rekannya, yang dibeli itu bukan Jenmanii. “Ia langsung syok dan meninggal. Contoh lain di Malang, ada yang sampai stress karena anthuriumnya dicuri. Sekarang kerjanya menyiram pot kosong.”


| kembali ke atas | print artikel ini | kirim artikel ini
Artikel Lain:

• Teuku Wisnu
• Cerita di Balik Pemotretan
• Ale-Nia
• Deddy Mizwar
• Basuki Meninggal Usai Main Futsal
• Berkah dari Pernah-Pernik Natal
• BERBAGI KEBAHAGIAAN LEWAT LAST WISH
 

Copyright © 2001 www.tabloidnova.com
All rights reserved.