|
|
| |
Best
view with IE 5.5 & Netscape Navigator 6.1 or higher.
|
|
 |
 |
 |
 |

BERHARAP PUNYA ANAK LAGI
Seminggu kemudian, dr. Anton menghubungi lewat telepon. Dia menyuruhku
kontrol lagi. Katanya, aku masih bisa hamil lagi. Namun, aku sudah kecewa.
Aku protes dengan perawatan RS. Masak begitu dikasih obat, kok, aku malah
keguguran. Kuminta dr. Antron menjelaskan medical record sampai aku
keguguran.
Dr. Anton mengatakan, soal keguguran itu sudah diluar kemampuannya sebagai
manusia. Tentu aku kecewa dengan jawabannya yang ngambang. Apalagi, dia juga
mengatakan sudah memberi obat padaku sesuai prosedur. Lucunya, dia
mengatakan bahwa aku dan dia harus sama-sama menerima kenyataan ini.
Menurutku, mereka sudah tidak bertanggung jawab. Oleh karena masalah tidak
kunjung tuntas, aku menghubungi pengacara Yasri Febrian Marly untuk menjadi
kuasa hukumku, Jumat (14/5).
(Dalam kesempatan ini Yasri mengatakan, pihaknya melayangkan somasi pada
pihak RSSG. "Kami minta mereka bertanggung jawab tentang kelalaian yang
sudah dilakukan. Baru belakangan klien kami diberi tahu bahwa dia dalam
kondisi abortus imines atau abortus yang sedang berjalan).
Sekarang, terasa sulit bagiku menjelaskan pada Mimil. Apalagi saat ia
bertanya, kenapa perutku enggak besar-besar. Aku harus pelan-pelan
menceritakannya agar dia tidak kaget. Sambil bermain-main, aku menceritakan
masalah ini. "Adik enggak jadi datang. Artinya, dia lebih disayang Tuhan."
Ya, seharusnya adik Mimil lahir sekitar bulan Oktober nanti. Aku ingin anak
keduaku perempuan, biar sepasang.
Aku memang tidak putus asa. Aku masih mengharapkan punya anak lagi. Untuk
itu, aku tak putus berdoa. "Tuhan, kalau aku kelak melahirkan lagi, itu
bukan untukku, tapi untuk Mimil juga." Selain itu, aku juga rajin puasa
Senin - Kamis.
Tampaknya Mimil sudah ingin sekali punya adik. Buktinya, kalau lihat iklan
ibu hamil di teve, dia langsung nyeletuk, "Kapan ya adik lahir." Bahkan, dia
sudah cerita ke mana-mana. Baik pada kakek-nenek, guru sekolah, juga
teman-temannya.
"SAYA YAKIN ENGGAK SALAH"
Ketika dihubungi lewat telepon, Dr. med. Antonius Herry Soedibyo, Sp.OG
mengaku Ade datang padanya dengan keluhan perut. "Saat itu memang dia saya
beri obat kontraksi. Saya minta dia banyak istirahat. Dua hari kemudian dia
datang lagi dengan keluhan keluar vlek merah. Kali itu saya anjurkan untuk
dirawat di rumah sakit. Mungkin saat itu dia juga capek dan banyak pikiran,"
kata Dr Antonius.
Dikatakan Antonius, ia menginstruksikan pada perawatnya agar memberi terapi
dengan dextrose 5 persen dicampur dufadilan dan injeksi dengan propasi 5000
unit. Tujuannya untuk menguatkan janin dalam kandungan. "Itu semua sudah
sesuai prosedur medis dan ada buktinya, kok, sesuai dengan resi obat di
apotek."
Antonius mengaku, belakangan baru diketahui Ade menderita abortus imines.
"Jadi, kalau ternyata Ade tetap keguguran, semua itu memang sudah diluar
kemampuan manusia. Kalau memang bersalah, perawat bisa dikenakan sanksi.
Saya sendiri mau bertanggung jawab, tapi saya yakin enggak bersalah."
Menurut Antonius, kasus ini tak mempengaruhi dirinya. Salah satu buktinya,
pasiennya tidak berkurang. "Mereka rata-rata memberi dukungan pada saya. Ya,
saya sekarang harus banyak sabar dan berdoa terus pada Tuhan."
Dalam kesempatan terpisah Kasat Reskrim Polresto Tangerang, AKP Asep Adi
saputra, SH SiK, mengaku pihak Ade sudah mengadu Rabu ( 26/5). "Kami sudah
melakukan pemanggilan terhadap perawat RSGG dan penanggung jawab medis RSSG.
Untuk sementara, kami belum bisa mengambil kesimpulan. Jika masih diperlukan
kami akan memanggil saksi ahli." |
 |
|
|
Debbi Safinaz
|
|
FOTO-FOTO:
Debbi Safinaz
|
|
 |
 |
|
 |
|