25 Oktober 2014  07:53 WIB
 
Home | Redaksi | Guest Book | Polling | Mailing List | Newsletter | Daftar Edisi | Chat | Kontak Nova
 

NOVA TERBARU
No. 1044 Thn. XVIII


Dapatkan Segera!
Sirkulasi:
Telp 021-2601666

Varia Warta
SUDAH TERBIT, BUKU MEDITASI UNTUK KEHAMILAN
NELWAN ANWAR BERAKSI DI PEMBUKAAN APARTEMEN
KUMPULAN MASALAH KESEHATAN 5 DITERBITKAN
TALKLIFE HADIR DI SEMARANG
SEMINAR SEHARI MAHKOTA DEWA
Reuni Peserta Tur NOVA
KONVOI KENDARAAN MERIAHKAN PELUNCURAN OTOPLUS
 
Best view with IE 5.5 & Netscape Navigator 6.1 or higher.
 

Si Kembar Yuliana-Yuliani
DIJULUKI TWIN SISTER DAN YULIANI QUADRAT

KLIK - DetailMasih ingat Pristian Yuliana dan Pristian Yuliani? Ya, kembar siam dengan posisi kepala dempet di ubun-ubun (craniopagus vertical) ini berhasil dipisahkan dan tumbuh menjadi remaja yang cerdas, penuh cita-cita. Bagaimana keseharian mereka saat ini?

Suasana rumah di Jalan Sumatera Gg. Swadaya, Tanjungpinang, Riau, Minggu siang (13/7) lalu tampak berduka. Di rumah itulah, pasangan kembar Pristian Yuliana dan Pristian Yuliani atau Ana-Ani (16) tinggal. Siang itu, nenek mereka, Nek Dawen (80), meninggal dunia di rumahnya yang terletak 50 meter dari rumah Ana-Ani.

Terlihat banyak warga hadir melayat. Sesekali, terdengar suara Ana dan Ani melantunkan surat Yasiin dengan suara merdu dan lafaz yang pas. Wajah Ana-Ani tampak murung. "Ya, siapa, sih, yang enggak sedih ditinggal Nenek. Apalagi, kami termasuk dekat dengan beliau." Malamnya, ketika NOVA kembali datang, wajah keduanya sedikit cerah. Dengan lancar, mereka menceritakan "sejarah" mereka dulu ketika masih dempet. "Kami tahu kami lahir sebagai kembar siam saat masih TK. Mama dan Papa sering nunjukin kliping koran dan majalah. Mereka berterus-terang, kami lahir sebagai kembar dempet," kata Ana yang dianggap lebih tua.

Mereka pun kemudian paham arti nama depan mereka: Pristian. "Itu diambil dari kata Prasetian yang merupakan singkatan Peristiwa bulan Juli, saat kami dioperasi," imbuh Ani yang baru setahun belakangan memakai kacamata, sedangkan Ana sudah sejak kelas 3 SD.

Pemberitahuan sejak dini membuat Ana-Ani memahami benar kondisi mereka. "Setelah selesai operasi, kepala kami botak di bagian belakang. Jadi, begitu ketemu orang-orang di jalan, kami suka diledeki. Bahkan sampai sekarang kami masih sering diusili orang. Tapi kami cuek saja. Kan, sudah diberitahu orang tua jauh sebelumnya," papar Ani.

Sekarang, orang tak bisa lagi mengejek mereka. Rambut mereka panjang sampai sepinggang dan hitam lebat. "Rambutnya sampai berkilau," celoteh mereka serempak.

KLIK - DetailPINGIN JADI DOKTER
Ana dan Ani tumbuh sebagai remaja yang aktif. Mereka senang bergurau dan sering diledek teman-temannya. "Guru dan teman-teman di sekolah sering memanggil kami 'kembar gila', twin sister bahkan 'Yuliana quadrat'. Pokoknya macam-macamlah. Kami, sih, senang-senang saja dengan sebutan itu."

Mereka dijuluki seperti itu, karena memang sering tampil berdua. "Tapi, di kelas kami tidak duduk semeja. Kami takut dianggap saling nyontek dan kerjaannya selalu sama," ujar Ani. "Ya, kami ke mana-mana selalu bersama-sama," tutur siswi kelas II SMA St. Maria Katolik, Tanjung Pinang ini.

Namun, meski terlihat selalu sama, mereka punya hobi yang berbeda. Ana, misalnya, paling sebel kalau disuruh menggambar. "Kalau sudah urusan gambar, Ana suka merayu Ani untuk dibikinkan. Ani memang hobi melukis. Selain itu, ia suka basket dan joging," kata Ana.

Soal pelajaran sekolah, mereka mengaku sama-sama suka pelajaran Biologi, Kimia dan PPKN. "Cita-cita kami juga sama, pingin jadi dokter. Ani maunya jadi dokter bedah, saya maunya jadi dokter umum saja. Nanti baru dipikirkan mau ambil spesialis apa," papar Ana yang mendapat ranking 7 di sekolahnya, sementara Ani ranking 5.

Mereka mengaku terinspirasi oleh kekaguman terhadap Prof. Dr. R. M. Padmosantjojo, yang berhasil mengoperasi mereka. Padmo sendiri adalah bapak angkat mereka, dan mereka panggil dengan sebutan akrab Pakde. "Kami juga ingin membantu orang-orang susah yang mau berobat," imbuh Ana yang suka curhat pada mamanya.

KLIK - Detail Demi mewujudkan cita-citanya, Ana mengaku rajin belajar. Sebelum berangkat sekolah siang, mereka belajar lebih dulu. Mereka sama-sama mengikuti kursus bahasa Inggris seminggu tiga kali. "Pokoknya, kami harus berhasil. Kami ingin menunjukkan pada Pakde dan orang tua bahwa kami berhasil. Jika semesteran atau kenaikan kelas, Pakde minta dikirimi rapor," kata Ana.

Ani langsung menambahkan, kalau naik kelas, Pakde Padmo suka membelikan mereka hadiah. "Pakde suka beliin tas, sepatu, atau keperluan sekolah lain. Kami memang ingin konsentrasi sekolah dulu. Makanya, kami tidak mau pacaran dulu. Nanti saja setelah sekolah kami berhasil dan kami jadi orang," kata Ani seraya tersenyum.


| kembali ke atas | print artikel ini | kirim artikel ini
Artikel Lain:

• Gadis Kecil itu Diculik, Lantas Dibunuh
• Mengenang Si Kembar Ladan dan Laleh Bijani
• Kisah Sedih Tenggelamnya Dua Gadis Cilik
• Suka Duka Penerjemah Harry Potter
• Cerita dari Demo Masak di Yogya
• Kisah Asmara Dua Bupati
 

Copyright © 2001 www.tabloidnova.com
All rights reserved.