24 April 2014  03:16 WIB
 
Home | Redaksi | Guest Book | Polling | Mailing List | Newsletter | Daftar Edisi | Chat | Kontak Nova
 

NOVA TERBARU
No. 1044 Thn. XVIII


Dapatkan Segera!
Sirkulasi:
Telp 021-2601666

Varia Warta
SEMINAR KECERDASAN EMOSI
KAMPANYE PANDU DIABETES MERCK
L'OREAL COLOUR TROPHY INDONESIA 2004
PELATIHAN KOMPUTER WICARA BAGI TUNANETRA
STOP KEKERASAN PADA PEREMPUAN DAN ANAK
 
Best view with IE 5.5 & Netscape Navigator 6.1 or higher.
 

Duka Keluarga Mahasiswi Korban Pembunuhan
BUAH TANGAN SEBAGAI TANDA PERPISAHAN

Sebuah kotak cokelat bertuliskan Sumbangan Tragedi 7 Oktober, Mahasiswi Stikes DIII Kebidanan, terletak di halaman kampus Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Universitas Jendral Ahmad Yani, Bandung. Warga kampus memang baru saja mengalami tragedi. Pada tanggal itu, mereka kehilangan dua mahasiswi. Rekan mereka, Desi Sri Mulyati (19) dan Ratih Rismayati (19) meninggal setelah dirampok.
KLIK - Detail
Kamis (7/10) malam lalu sekitar pukul 23.00, Desi, Ratih, dan seorang rekan mereka, Indah Rahayu (19), usai mengikuti pengajian yang rutin mereka ikuti di Masjid Daarut Tauhiid, yang terletak di Jalan Gegerkalong Girang, Bandung. Mereka bermaksud kembali pulang ke tempat kos di Kampung Babakansari, Warungcontong, Padasuka, Cimahi.

Setelah menaiki sebuah angkutan kota (angkot) jurusan Tagog, ketiga mahasiswi ini menyetop angkutan jurusan Cimahi Leuwipanjang. Meski di dalam angkot sudah ada beberapa pria, Indah dan kawan-kawan tidak curiga. Mereka pun masuk angkot warna hijau itu. Namun, sesaat kemudian, empat pria yang duduk di belakang langsung menodongkan senjata api dan senjata tajam.

Para perampok ini mengikat tangan dan menutup mulut ketiganya dengan lakban. Usai melumpuhkan korbannya, dengan kasar 4 pria itu mulai melucuti perhiasan dan uang. Tak berhenti di situ, ketika mobil melintas jembatan Leuwisapi, Nanjung, Margaasih, pelaku mendorong tiga korbannya ke sungai Citarum.

Beruntung bagi Indah. Ia berhasil melepaskan diri dari ikatan dan berenang ke tepi sungai. Ia pun selamat. Berbeda dengan dua sahabatnya, Jumat (9/10), Ratih dan Desi ditemukan warga sudah menjadi mayat. Kasus ini pun menggegerkan masyarakat Bandung.

PIKIRAN KALUT

Berita meninggalnya Ratih membuat keluarganya amat berduka. Orang tua Ratih, Dadang Rahayuna (43) dan Ai Cuhayati (38), sama sekali tak menduga anak sulungnya dari 3 bersaudara itu mengalami nasib tragis. Dadang mengisahkan, ia terakhir kali bertemu Ratih, Jumat (1/10). "Ratih SMS saya. Karena kurang jelas SMS-nya, saya telepon. Katanya dia sakit kepala. Saya dan ibunya, menjemput Ratih dan membawanya ke dokter," ujar Dadang saat ditemui di rumah kerabatnya di Cikajang, Garut, selasa (12/10)
Dua hari kemudian setelah kesehatannya membaik, Ratih kembali ke kampus. "Sebelum berangkat, dia saya nasihati agar jangan tinggalkan salat dan rajin mengaji. Dalam kesempatan itu, ia minta pada saya dan ibunya untuk membuatkan seragam baru," ujar Dadang yang mengantarkan Ratih sampai kampus.
KLIK - Detail
Memenuhi keinginan putrinya, Jumat (8/10), Dadang bersama istri pergi ke pasar untuk mencari kain, bahan untuk seragam Ratih. Saat menunggu istrinya belanja, "Istri seorang teman saya mengabarkan bahwa Ratih dirampok dan diculik," ujar Dadang yang langsung cemas. Belum hilang kecemasan Dadang, ponselnya berdering. Berita senada juga disampaikan ibu kos Ratih. "Katanya, Ratih diculik dan sampai saat ini belum ketemu."

Dadang jelas panik. Ia langsung berlari ke dalam pasar untuk mencari istrinya. Begitu bertemu, Dadang mengajaknya pulang. "Saya belum cerita apa-apa. Saya diam saja sepanjang perjalanan pulang. Pikiran saya kalut sekali. Saya sudah bayangkan, Ratih meninggal," katanya.

Untuk mendapat kejelasan nasib Ratih, bersama istri dan ibunya, Dadang menuju Polsek Margaasih, yang membawahi lokasi kejadian. Berita itu memang benar. Dengan hati kalut, mereka bertiga ke tempat kos Ratih. "Sampai di sana, saya semakin panik karena di tempat kos Ratih sudah ramai wartawan."

Kekalutan Dadang semakin menjadi ketika Ratih ditemukan dengan kondisi sudah menjadi mayat. Dadang pun terkulai pingsan. Begitu syoknya, ia tidak tega melihat jenazah Ratih. "Saya ngebayangin dia ditusuk. Walau dibilangin tubuh Ratih enggak ada yang luka, tetap saja saya enggak tega melihatnya."

KLIK - DetailBEREBUT MEMBERI NAMA
Pantas saja Dadang amat berduka. Apalagi, Ratih adalah anak perempuan satu-satunya dalam keluarga besarnya. Itu sebabnya, ketika Ratih lahir pada 26 Agustus 85, "Saya sangat bangga punya anak perempuan, sementara saudara-saudara yang lain tidak," kata Dadang.

Saking senangnya, kehadiran Ratih mendapat sambutan yang luar biasa dari keluarga besarnya. Begitu antusiasnya, semua saudara Dadang berebut ingin memberi nama. "Setelah berembuk bersama, kami memilih nama Ratih Rismayati. Paman Ratih yang memberi nama itu," tutur pengelola lokasi pariwisata air panas Cimanggu ini.

Ratih pun menjadi kebanggaan keluarga besarnya. Namun demikian, Ratih tidak tumbuh menjadi anak manja. "Sejak kecil, dia sudah belajar mengaji, lho," ujar Dadang seraya mengatakan, Ratih bercita-cita jadi dokter.

Dikatakan Dadang, lulus SMA, Ratih ingin melanjutkan kuliah di Stikes Universitas Jendral Ahmad Yani. "Sebagai orang tua, saya mendukung keinginannya. Saya senang dia tidak pernah mengeluhkan kuliahnya. Padahal, buku kuliahnya tebal-tebal. Pernah saya tanya, pusing enggak baca buku setebal itu, dia bilang enggak. Malah dia selalu terlihat gembira."

Sebagai anak sulung, lanjut Dadang, Ratih amat dekat dengan adik-adiknya. "Dia suka sekali mencandai Fani (4), adik bungsunya. Begitu dekatnya hubungan mereka, Fani sering menanyakan kakaknya. Saya jawab saja, Teteh lagi kuliah," ujar Dadang yang sampai sekarang belum mau pulang ke rumahnya di kawasan Ciwidey.


| kembali ke atas | print artikel ini | kirim artikel ini
Artikel Lain:

• Maia Dhani
• Dina Mariana
• Istri Tua & Istri Muda Ribut, Kiwil Hanya "menonton"
• Nani - Misbach
• Sidang Tayangan Paranoid
• Setahun Si Putri Sesak Napas
• TAMPARAN PAK BUPATI BERUJUNG GUGATAN RP 10 MILIAR
• Kesedihan Keluarga Heli Jatuh
 

Copyright © 2001 www.tabloidnova.com
All rights reserved.