20 April 2014  20:59 WIB
 
Home | Redaksi | Guest Book | Polling | Mailing List | Newsletter | Daftar Edisi | Chat | Kontak Nova
 

NOVA TERBARU
No. 1044 Thn. XVIII


Dapatkan Segera!
Sirkulasi:
Telp 021-2601666

Dokter
"BURUNG" SI BUYUNG KECIL
Griya
RUMAH TINGGAL SEKALIGUS TEMPAT USAHA
Hukum
Sekali Sidang, Kok, Langsung Cerai
 
Best view with IE 5.5 & Netscape Navigator 6.1 or higher.
 

RINDU ANAK HASIL HUBUNGAN INSES

Ibu Rieny yang terhormat,
Saya anak ke-3 dari 6 bersaudara, kedua orang tua saya bekerja keras membuka warung di pasar untuk menghidupi kami, anak-anaknya. Seingat saya, sedikit sekali masukan-masukan bernilai religius yang kami terima, sementara untuk pendidikan juga rasa-rasanya kurang.
Buktinya, tidak pernah ada pujian bila anaknya berprestasi, atau kalau mau berhenti pun orang tua tidak berkomentar. Kakak sulung berhenti setelah tamat SMP dan ikut berjualan, sementara saya bisa memperoleh ijazah setara D-3 dari luar negeri dengan 'passport' berupa kelahiran bayi saya. Getir ya Bu, tetapi itulah hidup yang pernah dan sedang saya jalani. Harus hamil dan melahirkan, baru bisa mencapai semua ini.

Ceritanya dimulai ketika saya duduk di kelas I SMA, kakak laki-laki (si sulung) dan seorang adik perempuan tidur satu tempat tidur karena rumah kami memang cuma punya 2 kamar (1 untuk orang tua, 1 untuk kami bertiga) dan adik lain yang masih kecil-kecil di dipan besar di luar kamar tidur orang tua.
KLIK - Detail
Ia mulai meniduri saya ketika akhir kelas I, dan lebih gila lagi, bila saya sedang menstruasi, adik saya yang menjadi 'pengganti' saya. Kami berdua sama-sama tahu, tetapi tidak pernah bicara tentang hal ini dan berpura-pura tidak ada apa-apa karena Kakak selalu diagung-agungkan orang tua sebagai calon pengganti mereka.

Tibalah saat dimana saya (ternyata) hamil. Baru setelah orang-orang dewasa di sekitar saya berbisik-bisik dan saya ditanyai Pendeta, tahulah saya bahwa saya ini hamil. Orang tua hanya acuh ketika diberitahu soal ini. Tidak dibahas, Kakak tidak dimarahi dan tetap saja saya ditiduri. Satu-satunya keberanian yang pernah saya lakukan adalah saya tendang ia saat akan menggerayangi Adik dan saya suruh ia meniduri saya saja, toh tak ada risiko lagi karena saya sudah hamil!

Pada bulan kelima, Kepala Sekolah meminta saya untuk keluar karena teman-teman dan guru-guru merasa 'aneh' melihat ini. Dunia rasanya runtuh, Bu. Apalagi, prestasi saya juga selalu bagus, sehingga teman-teman menjadikan saya sebagai tempat bertanya dan minta bantuan dalam hal pelajaran.

Saya putuskan saat itu, saya harus pergi dari rumah neraka itu, kalau tak mau hidup saya berakhir jadi ibu tanpa suami, dan tak berpendidikan pula. Singkat kata, dengan pertolongan banyak pihak, saya pergi ke pulau Jawa, melahirkan, menamatkan SMA dan atas biaya LSM luar negeri saya belajar ke X.

Tidak muluk-muluk Bu, keinginan saya, dengan keterampilan bahasa serta ijazah sekretaris, saya yakin akan bisa hidup mandiri nantinya. Anak saya langsung diadopsi oleh keluarga yang seiman dengan saya dan belum punya anak. Oh, ya, sebulan setelah saya pergi dari rumah, Adik berhasil saya titipkan ke suatu tempat. Tetapi, Adik memang jauh lebih pendiam dan tertutup dibanding saya, sehingga tampaknya trauma pelecehan itu tetap membekas dan walaupun berhasil menjadi asisten apoteker, ia tetap melajang dan tidak mau berhubungan lagi dengan keluarga besar.

Ia menetap di Pulau X dan kami berdua tetap berhubungan hingga kini. Saya sempat bekerja di luar negeri selama beberapa tahun, bertemu pria Indonesia dan sejak awal sudah saya
ceritakan semua yang terjadi, dan ia mau menerima saya menjadi istrinya.

Inilah saya sekarang Bu! Punya keluarga, 2 anak, hidup mapan, dengan suami yang punya karier bagus. Saya tidak bekerja lagi. Sejak 2 tahun lalu sudah mukim di Indonesia kembali dan menjadi pembaca setia rubrik Psikologi. Setelah suami, Ibulah orang kedua yang tahu cerita saya ini.

Atas dorongan suami, saya belajar memaafkan orang tua yang tadinya saya benci. Sudah beberapa kali kami menyambangi mereka, Kakak belum kawin tetapi hingga hari ini tak pernah ada kata 'maaf' darinya. Saya tak bisa memaksa diri untuk bicara padanya dan tetap mencoba memaafkannya. Susah Bu, tidak semudah memaafkan orang tua.

Ketika hidup saya mulai bersinar, anak-anak tumbuh menjadi besar, saya rindu anak saya, Bu, dan lagi-lagi suami begitu baik menelusuri dan mencari, hingga akhirnya saya bisa melihatnya dari jauh. Ia tumbuh sehat, rajin beribadah, punya adik (ibunya lalu hamil setelah ia berumur 4 tahun), tetapi tetap disayang oleh orangtuanya. Tingginya 180 Cm dan tampan pula.

Saya ingin sekali memeluknya agar ia tahu saya ibunya, habis itu saya akan berlalu dari hadapannya. Saya berangan-angan dapat meminta maaf padanya atas segala penderitaan yang sudah saya buat untuknya selama ini. Tetapi, suami melarang, karena dampaknya buruk bagi si anak, katanya. Bagaimana saran Ibu? Saya berjanji tak akan mengganggu hidupnya lagi setelah itu, apakah ini terlalu berlebihan untuk darah dagingsaya sendiri? Terima kasih.

BGT di X


| kembali ke atas | print artikel ini | kirim artikel ini
 

Copyright © 2001 www.tabloidnova.com
All rights reserved.