30 September 2014  11:50 WIB
 
Home | Redaksi | Guest Book | Polling | Mailing List | Newsletter | Daftar Edisi | Chat | Kontak Nova
 

NOVA TERBARU
No. 1044 Thn. XVIII


Dapatkan Segera!
Sirkulasi:
Telp 021-2601666

Varia Warta
DUA BUKU BARU TERBITAN INTISARI
DANA BAGI PARA ODHA
UNDIAN GRAMEDIA GREAT PRIZES
KONFERENSI ANAK 2004 MAJALAH BOBO
SEMINAR PENCEGAHAN PENYAKIT MULUT DAN GIGI
TAMPILAN BARU PIXY MENYAMBUT TAHUN BARU
 
Best view with IE 5.5 & Netscape Navigator 6.1 or higher.
 

Musibah Kecelakaan Pesawat Lion Air
ISYARAT BAU WANGI BUNGA MELATI

Musibah menimpa dunia penerbangan kita tatkala pesawat Lion Air JT 538 jurusan Jakarta-Solo, tergelincir di Bandar Udara Adi Sumarmo, Solo. Akibatnya sungguh mengenaskan, 26 orang tewas dan lainnya luka berat dan ringan. Yang tersisa tinggal cerita duka.

KLIK - Detail
Kalau saja Juang Sitanggang (33) menyikapi candaannya dengan serius dan mengabaikan permintaan anak sulungnya, mungkin nasib akan berkata lain. Saat bersilaturahmi ke rumah mertuanya di Jakarta, Juang sempat melontarkan celetukan pada istrinya, Ratih Ningrum Nainggolan (26). "Kita pulang naik mobil saja ya Ma," ujar Juang yang bersama keluarganya tinggal di Solo.

Namun, saat melihat pesawat, anak sulung Juang, Bernadeth Audrey Gaberia (2,5) langsung minta pulang dengan pesawat. Juang pun mengabulkan permintaan Gabe. Selain Juang harus kembali bekerja, Gabe juga sudah seminggu tak masuk sekolah. Begitulah, Juang akhirnya memilih naik pesawat.

Di pesawat Lion Air JT 538 jurusan Jakarta-Solo itu, Juang duduk di kursi nomor 32 D bersama Gabe. Sedangkan anak bungsunya, Felicia Agatha Eowyn Gandhia (10 bulan), dipangku Ratih di kursinya 3D, persis di belakang kursi VIP. Jarak kursi mereka sekitar 10 meter. "Mungkin karena aturan dalam penerbangan, kami tidak bisa duduk satu deret," papar ayah dua anak ini.

KLIK - DetailINJAK TUBUH MANUSIA
Dikisahkan Juang, selama di udara, perjalanan berlangsung lancar. Sampai akhirnya pramugari mengumumkan pesawat akan mendarat, namun cuaca dalam keadaan buruk. Ia merasakan pesawat kembali take off, lalu terjadi benturan yang dirasakannya tak terlalu keras. Saat itu, Juang yang selama perjalanan tak pernah beranjak dari kursinya mengaku belum tahu apa yang terjadi. Itu sebabnya, ia tak percaya pada keadaan yang dilihatnya setelah ia berdiri.

"Di belakang saya ada wartawan yang langsung menyalakan lampu kamera tevenya. Saya lihat orang-orang berusaha keluar pesawat dengan panik. Ternyata, pesawat sudah terbelah jadi dua," tutur Juang yang langsung menggendong Gabe keluar dari pesawat lewat pintu darurat di kanan belakang. Saat turun, Juang baru sadar, pesawat mendarat di atas pemakaman dan bagian bawah pesawat sudah menganga lebar.

Batin Juang begitu bergolak melihat para penumpang yang sudah berhasil keluar dari pesawat tampak bergelimpangan di luar. Setelah menitipkan Gabe pada penumpang wanita di luar, dengan penuh kepanikan Juang kembali masuk ke dalam pesawat untuk mencari Ratih dan Agatha. "Saya berteriak memanggil-manggil istri saya tapi enggak ada jawaban," kata Juang.

KLIK - Detail Meski dalam kondisi cemas, Juang sempat menolong dua orang. Ketika mencoba menolong seseorang, "Rupanya tangannya terjepit. Ia mengaku tangannya patah. Saya enggak berani menariknya karena takut lukanya makin parah."

Setelah tak kunjung melihat istri dan anak bungsunya, Juang memutuskan keluar dari pesawat. "Soalnya mesin masih menyala. Percikan api juga terus terjadi di bagian depan pesawat dan bau bahan bakar. Saya takut pesawat sewaktu-waktu meledak."

Saat melangkah dalam kegelapan, tak sengaja Juang menginjak sesuatu yang empuk. "Ternyata itu bukan bangku, melainkan tubuh manusia. Karena gelap, enggak terlihat," tutur Juang yang tak putus berdoa agar anak dan istrinya selamat. "Saya yakin pasti akan kembali bertemu mereka."


| kembali ke atas | print artikel ini | kirim artikel ini
Artikel Lain:

• Babak Baru Adjie-Reza
• Ray Sahetapy
• Joy Tobing
• Meisya Bebi
• Cerita Duka Si Calon Istri
• Kapten Pilot Dalam Kenangan Istri Tercinta
• Gempa Melanda Bumi Nabire
• Terbongkarnya Penculikan Pura-pura
 

Copyright © 2001 www.tabloidnova.com
All rights reserved.