24 July 2014  14:43 WIB
 
Home | Redaksi | Guest Book | Polling | Mailing List | Newsletter | Daftar Edisi | Chat | Kontak Nova
 

NOVA TERBARU
No. 1044 Thn. XVIII


Dapatkan Segera!
Sirkulasi:
Telp 021-2601666

Varia Warta
DUA BUKU BARU TERBITAN INTISARI
DANA BAGI PARA ODHA
UNDIAN GRAMEDIA GREAT PRIZES
KONFERENSI ANAK 2004 MAJALAH BOBO
SEMINAR PENCEGAHAN PENYAKIT MULUT DAN GIGI
TAMPILAN BARU PIXY MENYAMBUT TAHUN BARU
 
Best view with IE 5.5 & Netscape Navigator 6.1 or higher.
 

Cerita Duka Si Calon Istri
AJAKAN NIKAH LEWAT TELEPON TENGAH MALAM

KLIK - Detail Begitu banyak cerita duka akibat tergelincirnya pesawat Lion Air. Salah satu korban, Jefri Edison Mangiri, S.H (29), saat dievakuasi tangannya memegang selembar undangan pernikahan atas nama dirinya dengan sang calon istri, Oktova Primasari. Di situ tertulis, "Pemberkatan dan resepsi pernikahan, Sabtu, 4 Desember 2004. Mohon doa dan restu." Sedianya, Jefri terbang ke Solo untuk melangsungkan pernikahan. Inilah ungkapan kedukaan Okta, sapaan kekasihnya.

Ditemui di rumah duka, Jln. Merak, Slipi, Jakarta, Rabu (1/12), Oktova yang akrab dipanggil Okta, terlihat begitu berduka. Gadis kelahiran 2 Oktober 1975 ini berulangkali mengusap dan membelai jasad sang kekasih yang terbujur kaku di dalam peti jenazah. "Epi sayang, kenapa jadi saya yang antar kamu ke Toraja? Kenapa begini?" ratapnya dengan air mata meleleh di pipi. Batin Okta memang amat luka. Pernikahannya yang sudah di depan mata, berganti duka. Ia justru harus mengantar kekasihnya ke peristirahatan terakhir di Tanah Toraja.

Saya tiba di Solo sekitar jam 17.00. Saya dan Jefri memang berangkat terpisah, saya dari Bandung, sedang dia dari Jakarta. Hingga hampir jam 18.00, HP Jefri masih terus mailbox. Dengan ragu-ragu saya ajak Papa menemani menjemput Jefri di bandara, hujan-hujan.

KLIK - Detail Sampai di mulut bandara, kami tak bisa masuk karena jalanan diblokir polisi. Ada juga ambulans yang lalu lalang. Saya dan Papa memutuskan untuk pulang. Saat itu, kami belum tahu kalau terjadi kecelakaan. Saya kira itu adalah pengamanan khusus karena ada muktamar NU.

Setibanya di depan rumah, saya dapat SMS dari teman yang mengabarkan bahwa pesawat yang ditumpangi Jefri mengalami kecelakaan. Saya langsung syok dan menangis. Saya coba telepon ke bandara, enggak ada yang mengangkat. Saya telepon Garuda, mereka bilang yang jatuh pesawat Lion.

Garuda mencoba membantu saya mencarikan nomor telepon Lion. Saya coba telepon, enggak ada yang menjawab. Saat kebingungan, sahabat Jefri semasa kuliah menelepon saya dan meminta saya mencari di rumah sakit. Katanya, korban-korban sudah dibawa ke sana. Lalu, saya ajak Papa dan Om saya ke RS.

SUKA DIELUS KEPALANYA
Sampai di RS Islam Yarsi, saya cari nama-nama korban luka. Namun, nama Jefri enggak ada. Saya lalu mencari di daftar nama korban yang sudah meninggal. Saya sempat histeris karena di urutan ke-3 tercantum nama Jefri. Saya sempat pingsan dan digotong oleh Om saya. Oleh Om, saya dikuatkan. Katanya, "Ini mungkin bukan Jefri kamu. Ini Jefri yang lain. Nama boleh sama, tapi orangnya berbeda." Waktu itu, memang nama Jefri tidak ditulis
dengan lengkap.

KLIK - Detail Ucapan Om membuat saya semangat lagi. Saya lalu pergi mencari ke kamar mayat. Saya cari juga di bangsal-bangsal. Tak satu pun pasien bernama Jefri. Setelah semua bangsal saya datangi, saya pun menyerah. Saya lalu meluncur ke RS Panti Waluyo. Di sana cuma ada 7 pasien, dan tak satu pun yang bernama Jefri. Kemudian saya ke RS Brayat Minolyo, di sana hanya ada 2 pasien yang selamat dan sudah pulang. Kami lalu meluncur ke RS PKU, enggak ada juga.

Saat mencari-cari, Mama Jefri selalu telepon saya, juga teman-teman Jefri. Mereka mengisyaratkan bahwa saya harus kembali ke Yarsi. Sebab, nama Jefri ada di sana. Di Yarsi, lagi-lagi saya harus lama mencari-cari. Saya coba mendekati polisi yang jaga, supaya saya diizinkan melihat-lihat korban. Saya hanya dikasih mengintip sedikit.

Ya Tuhan, ketika saya membuka pintu lebih lebar, saya lihat Jefri terbaring. Saya paling hafal alisnya. Dalam hati saya mengatakan, "Benar ini Jefri." Saat itu, saya belum diizinkan masuk. Saya tunggu di luar sebentar. Saat itu Mama Jefri telepon dan saya menceritakan semua yang saya lihat. Menurut Mama, Jefri pakai baju biru dan celana krem. Kalau begitu, benar jenazah tadi adalah Jefri!

Saya syok sekali. Saya menangis dan histeris. Tapi, di hati saya mensyukuri satu hal, Puji Tuhan Jefri masih dalam keadaan utuh. Saat diberi izin, saya langsung memeluk Jefri. Saya tarik jenazahnya. Saya buka kain penutup, saya lihat kepalanya memang terluka, juga telapak tangan kanan sobek dan darahnya terus mengalir di lantai. Paha kanan dalam Jefri juga robek. Handphone-nya hilang, cincin tunangan yang biasa dipakai tidak ada di jarinya, sepatunya juga lepas.
 
Saya terus menangis. Tapi syukurlah, saya tidak pingsan-pingsan lagi. Saya malah jadi kuat, setelah menemukan Jefri. Lalu, saya elus kepalanya. Sebab, Jefri paling suka dielus kepalanya. Saya juga pegang terus tangan Jefri. Saat itu benak saya kosong. Saya sedih sekali. Saya terpukul sekali.


| kembali ke atas | print artikel ini | kirim artikel ini
Artikel Lain:

• Babak Baru Adjie-Reza
• Ray Sahetapy
• Joy Tobing
• Meisya Bebi
• Musibah Kecelakaan Pesawat Lion Air
• Kapten Pilot Dalam Kenangan Istri Tercinta
• Gempa Melanda Bumi Nabire
• Terbongkarnya Penculikan Pura-pura
 

Copyright © 2001 www.tabloidnova.com
All rights reserved.