21 May 2013  05:41 WIB
 
Home | Redaksi | Guest Book | Polling | Mailing List | Newsletter | Daftar Edisi | Chat | Kontak Nova
 

NOVA TERBARU
No. 1044 Thn. XVIII


Dapatkan Segera!
Sirkulasi:
Telp 021-2601666

Psikologi
Ingin Melepaskan Topeng Kebohongan Dengan Bijaksana
Griya
RUMAH TUMBUH
Hukum
SALING REBUT HAK ASUH ANAK
 
Best view with IE 5.5 & Netscape Navigator 6.1 or higher.
 

MUKA BENGKAK AKIBAT ALERGI OBAT

Dokter Waldi yang baik,
Assalamualaikum, saya ibu rumah tangga dengan seorang putri berusia 6 tahun. BB-nya 20 kg. Sejak umur 2,5 tahun, setiap kali BAB, liang duburnya membengkak. Saya bawa ia ke dokter bedah. Kata dokter tidak apa-apa, kalau sudah besar pasti juga sembuh. Tapi, sampai sekarang belum sembuh juga, Dok.

Anak saya juga sering demam. Oleh bidan, ia dikasih obat sirup. Setahun belakangan ini, setiap kali ia demam, kelopak mata sebelah kiri membengkak dan merah, setelah itu membiru seperti luka memar. Rasanya gatal dan perih. Saya periksakan ke dokter spesialis anak, tapi jawabannya tidak memuaskan. Katanya, merah-merah itu hanya karena demam.

KLIK - Detail Saya jadi penasaran, tiap panas lagi selalu begitu, malah sekarang ditambah pipi sebelah kanan dan mulut menghitam. Saya bawa ke dokter umum, katanya ia alergi parasetamol, karena oleh bidan sering dikasih obat itu. Sekarang, hampir 2 bulan sekali, anak saya demam dan bekas merah-merahnya jadi hitam.

Dok, apa sebetulnya penyakit anak saya? Apakah betul kalau sudah besar nanti akan sembuh? Apa sebabnya dan kenapa setiap kali demam, muncul merah-merah dan bekasnya tidak hilang? Benarkah ia alergi parasetamol, dan obat apa yang sebaiknya saya berikan apabila ia demam lagi? Mohon saran, maaf kalau surat saya terlalu panjang. Terima kasih, wassalam.
Ny. Lilis - Sumedang

Walaikumsalam ibu Lilis di Legok Kaler,
Tidak, tidak perlu minta maaf, Bu. Surat Ibu tidak panjang, tulisan Ibu juga baik sekali, mudah dibaca, hanya agak tak lazim, sebab semuanya ditulis dengan huruf besar. Pasti makan waktu lama untuk menulisnya ya?

Daerah dubur yang membengkak ketika anak BAB itu menjadi tanda tanya saya. Saya belum pernah mendengar hal demikian pada anak-anak. Apakah dokter bedah pernah melihat hal yang sama pada pasien lainnya? Kelihatannya, ada hubungannya dengan otot di sekitar dubur, ya. Pada pandangan saya, sepanjang ia tidak mengeluh dengan kelainan ini dan tinjanya dikeluarkan dengan normal secara teratur, tampaknya tak ada yang harus diperbuat.

Soal kelainan kulit di wajah anak Ibu, rasanya yang disampaikan oleh dokter umum itu benar. Satu bukti bahwa tidak berarti dokter spesialis lebih pintar daripada dokter umum, kan? Malah Ibu mengatakan, jawaban dokter spesialis tidak memuaskan. Sayang sekali. Tidak memuaskan bagaimana, Bu? Terlalu cepat menjelaskannya? Atau tidak menjelaskan sama sekali?

Di kota kecil, kadang dokter spesialis anak hanya satu-dua orang, sehingga bisa jadi pasien melimpah dan dokter kekurangan waktu untuk memberikan informasi yang memadai. Haruskah demikian?

Walaupun sebaiknya dokter harus melihat sendiri gejala yang terdapat pada kulit, berlandaskan cerita Ibu, penyakit anak Ibu tergolong penyakit kulit akibat alergi obat. Nama kerennya erupsi obat alergik. Dari beberapa bentuk penyakit sejenis yang ada, nama yang sesuai untuk kelainan pada anak Ibu adalah eksantema fikstum atau fixed drug eruption. Kelainan ini biasanya berbentuk daerah lonjong atau bulat berwarna merah atau kehitaman sebesar kira-kira mata uang logam, kadang-kadang dapat berisi cairan di dalamnya.

Kelainan ini biasanya timbul pada daerah yang itu-itu saja, tidak pernah berpindah tempat jika anak Ibu menelan zat/obat tersebut. Tempat yang sering terkena adalah daerah di sekitar mulut, terutama daerah bibir, bahkan pada laki-laki bisa di daerah penis, sehingga disangka penyakit kelamin. Bercak ini lama hilangnya, bahkan bisa menetap (tak dapat hilang).

Karena saya menganggapnya sebagai reaksi alergi obat dan bukan karena panas badan, maka saya harus mendorong Ibu membuat daftar obat apa yang anak Ibu telan bilamana panas. Dari sini mungkin dapat diduga apa penyebab bercak hitam tersebut. Sering minum obat, apa pun jenisnya, dapat mengundang reaksi alergi, termasuk menelan parasetamol sekalipun, yang merek dagangnya banyak sekali dijaja di warung dan OTC. Coba Ibu tanyakan ke bidan apa nama obat yang telah diberikan dari waktu ke waktu bila anak Ibu sakit.

Parasetamol sebetulnya termasuk obat yang cukup aman untuk demam dibanding obat demam lainnya, lagipula harganya murah. Dan andaikata anak Ibu alergi parasetamol, bagaimana bila ia demam? Mencari obat demam lain?

Kalau kita mau menelaah lebih jauh, sebetulnya demam yang terjadi pada seseorang tidak harus buru-buru diobati, apalagi kalau demamnya hanya sayup-sayup sampai ( 38,5 C). Pada saat demam, tubuh akan mengerahkan seluruh tentaranya untuk bergerak membasmi kuman. Obat demam lebih sesuai diminum bila demam disertai keluhan lain yang mengganggu anak, seperti sakit tulang, sakit otot, sakit menelan, pusing, riwayat kejang. Anak demam bisa saja tetap bermain dengan lincah, dan di sini obat demam tak diperlukan sekali. Yang ribut biasanya orang tuanya (juga dokternya), terlebih kalau sedang ada isu demam berdarah.

Suhu anak dapat diturunkan dengan banyak minum (apa saja yang layak diminum) dan mandi air hangat. Kalau perlu, mandi beberapa kali sehari! Jangan takut rematik mandi tengah malam. Pengganti parasetamol ada beberapa jenis yang beredar, tetapi juga tak ada jaminan bakal tak ada alergi, misalnya ibuprofen, metampiron, asam mefenamat. Dari segi keamanan, penggunaan ibuprofen lebih baik daripada metampiron atau asam mefenamat.

Merek dagang yang telah lama dikenal yang mengandung ibuprofen adalah proris, yang mengandung metampiron adalah Novalgin atau Antalgin, sementara asam mefenamat lebih dikenal sebagai Ponstan. Pernah dengar, bukan? TApi hati-hati menggunakannya, lebih baik atas petunjuk dokter, terlebih metampiron dan mefenamat yang seyogyanya tidak bisa dibeli bebas. Eh, apa masih ada obat yang tak bisa dibeli bebas di Indonesia.



< Outsider >
FOTO-FOTO: Aries Tanjung
| kembali ke atas | print artikel ini | kirim artikel ini
 

Copyright © 2001 www.tabloidnova.com
All rights reserved.