16 April 2014  21:59 WIB
 
Home | Redaksi | Guest Book | Polling | Mailing List | Newsletter | Daftar Edisi | Chat | Kontak Nova
 

NOVA TERBARU
No. 1044 Thn. XVIII


Dapatkan Segera!
Sirkulasi:
Telp 021-2601666

Varia Warta
PEMILIHAN MISS ASEAN 2005
HEMAVITON SUMBANG PROGRAM ANTI-NARKOBA
LOMBA PENULISAN ESAI REMAJA 2005
PELUNCURAN MPI CRISIS CENTER
BECAUSE YOUR SPECIAL DI PUAN CLINIC
 
Best view with IE 5.5 & Netscape Navigator 6.1 or higher.
 

Rudy di Mata Adik dan Sahabatnya
PAGI KULIAH, MALAM MENCARI NAFKAH

Dari cerita adik dan sahabat-sahabat terdekatnya, perjuangan Rudy di Jakarta memang luar biasa. Pagi sekolah, malam mencari nafkah. Sayang perjuangan itu akhirnya sia-sia di saat Rudy nyaris mewujudkan cita-citanya.

KLIK - Detail Kematian Yohanes Haerudy Brachmans Natong alias Rudy yang ditembak oleh Adiguna Sutowo, saat malam tahun baru lalu membuat Elisabeth Valeria alias Felli (22) kehilangan gairah hidup. Adik Rudy ini mengaku seperti ayam yang kehilangan induknya. "Perasaanku hancur banget," ujar Felli, Jumat malam pekan lalu.

Pantaslah Felli sedih, pasalnya, selama ini Rudy menjadi gantungan hidup. Ia yang membiayai uang kuliahnya, di Universitas Bung Karno (UBK), Jakarta sebesar Rp 1 juta per semesternya plus biaya hidup Rp 600 ribu per bulan. Selain membiayai Felli, Rudy juga kerap mengirim uang ke orangtuanya untuk biaya sekolah empat adiknya. "Tapi saya enggak tahu berapa yang dikirim tiap bulannya. Yang pasti uang itu untuk biaya sekolah adik-adik di sana," tambah gadis berwajah cantik ini.

Padahal Rudy hanya seorang bartender. Ia pun harus membiayai kuliahnya sendiri. "Dia memang sangat mementingkan adik-adiknya," ujar Felli yang kos di daerah Utan Kayu, Jakarta Timur ini.

Felly memang tak tahu berapa gaji kakaknya sebagai bartender. "Saya pernah tanya, tapi dia enggak mau jawab. Dia hanya bilang, tak mau adik-adiknya kekurangan," jelas Felli yang kini hanya mengandalkan sisa tabungan yang masih ada untuk biaya hidup di Jakarta. "Untung saat ini saya tinggal menyelesaikan skripsi."

KLIK - DetailTAK SUKA JAJAN
Selain materi, Rudy juga selalu memberi dukungan moral kepada adiknya. "Dia selalu bilang agar aku membahagiakan orang tua. Caranya, harus disiplin dan bertanggung jawab selama kuliah. Rudy akan marah kalau saya tidak serius belajar."

Rudy tak hanya bisa bicara. Ia juga bisa memberi contoh. "Rudy selalu bekerja keras, sehingga hampir tidak ada waktu yang terbuang percuma. Siang hari kuliah dan bekerja pada malam harinya. Dia biasanya tidur pada sore harinya sehabis kuliah menjelang berangkat kerja. Di sela-sela waktunya dia sempatkan untuk olahraga atau memasak di kos karena dia tidak suka jajan," katanya.

Selain tidak suka jajan, Rudy dikenal sebagai pria yang tidak doyan merokok dan minuman keras. "Itulah uniknya dia. Meski bekerja sebagai bartender di kafe yang setiap malam penuh dengan asap rokok dan minuman keras, namun dia bukan perokok atau peminum. Ini menjadi salah satu kekagumanku pada Rudy."

Sebenarnya saat ke Jakarta tahun 2001 lalu, Felli berniat hanya mau ikut kursus. Tapi orangtuanya minta ia kuliah. Sampai semester dua, Felli masih mendapat kiriman dari orang tuanya. Tapi setelah semester tiga, Rudy yang yang mengambil alih tanggung jawab orangtua. "Kata Rudy, gajinya cukup untuk membiayai kuliah saya. Tak perlu minta kiriman dari kampung. Apalagi di kampung masih ada empat adik yang butuh biaya sekolah."

Kakak-adik ini juga cukup akrab. Kalau ke gereja, misalnya, mereka selalu usahakan agar berangkat bersama. Begitu juga pada akhir tahun 2004, Rudy sudah mengajak Felli untuk melakukan misa di Gereja Loyola, Manggarai, Jaksel, Jumat (31/12) malam.
Namun sore harinya, Rudy membatalkan rencana tersebut melalui telepon. "Dia enggak bisa ke gereja karena masuk kerja malam. Dia janji esok harinya saja." Di malam tahun baru itu, Felli juga dipesan agar tidak ke mana-mana, karena takut ada bom. "Saya diminta berdoa di rumah."

Ingat pesan Rudy, membuat Felli memilih tidur di kosnya malam itu. Namun siapa sangka itulah percakapan telepon kedua kakak-beradik ini yang terakhir kalinya. "Saya terbangun saat menerima telepon dari Riska (pacar Rudy, Red) jam 5.20 WIB. Dia panik dengan mengatakan Rudi berada di RS Mintoharjo karena dipukul orang."

Sesampai di rumah sakit, Felli akhirnya tahu Rudy bukan dipukul orang melainkan ditembak orang dan sudah meninggal. "Sama sekali tidak ada firasat buruk yang menandai adanya kejadian tragis itu. Benar-benar suasana hati saya tenang. Kayaknya Rudy tidak mau menyusahkan saya," ujar Felli sambil berusaha menahan tangis.

Berbeda dengan pertemuan terakhir Felli dengan Rudy berlangsung di rumah kos Rudy di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, Minggu (26/12). "Ketika saya mau pulang. Entah kenapa dia memeluk saya sambil mengatakan hati-hati, ya. Saya sempat heran namun tidak mengatakan apa-apa, karena pelukan seperti itu tidak biasanya."

Biasanya, kata Felli, kakaknya itu menggoreskan tanda salib dengan menggunakan jemarinya di kening Felli. Maksudnya agar Felli senantiasa diberkati Tuhan. Apakah
ini sebagai firasat? Mungkin juga, ya. Tapi sama sekali saya tidak menyangka kalau Rudy akan pergi untuk selamanya dengan cara yang tragis, ditembak orang," ungkap Felli.

KLIK - Detail PANDAI MEMANFAATKAN WAKTU

Duka yang dalam juga dirasakan oleh sahabat dekatnya, Yose (25) "Sampai sekarang, saya belum yakin dia telah pergi untuk selamanya. Padahal sayalah yang angkat mayatnya dan memasangkan baju sebelum diberangkatkan ke Ruteng untuk dikebumikan, awal Januari silam."

Yose, Rudy, dan Sony (26) pernah satu kos selama 5 tahun, di kawasan Pedurenan, Kuningan, sebelum akhirnya Rudy memutuskan pindah kos ke kawasan Setiabudi, beberapa bulan silam. "Sampai sekarang saya masih menyimpan barang-barang miliknya, seperti kompor, beberapa gelas kecil, dan sebagainya, karena dia masih sering mampir ke rumah ini," ujar Yose sambil menunjukkan perabotan milik Rudy yang disimpannya.

Meski mereka sudah pisah rumah, tetapi masih sering bercanda bersama. "Biasanya dia datang ke rumah saya. "Pokoknya kami sangat kompak. Sudah banyak suka-duka yang kami rasakan bersama dan bakal tidak terlupakan," ujar karyawan toko buku ini.
Senada dengan Felli, pria asal Waso, Ruteng ini mengatakan, kepergian Rudy berarti kehilangan motivator baginya. "Dia selalu mengatakan, bahwa tujuan merantau ke Jakarta bukan melihat besar dan megahnya kota Jakarta, melainkan untuk bekerja keras untuk membahagiakan orang tua dan adik-adiknya yang masih sekolah."

Tekad yang demikian membara, kata Yose, benar-benar dilaksanakan Rudy sehari-hari. Yose kemudian menjabarkan jadwal kegiatan Rudy saban hari. Pagi berangkat kuliah di UBK. Sepulang kuliah langsung tidur. "Bangun tidur, biasanya dia teriak dari kamarnya, sorenya belajar sebentar, lalu olahraga. Kemudian berangkat kerja pada sore hari atau malam hari dan baru pulang subuh keesokan harinya. "Dia benar-benar memanfaatkan waktu dengan baik. Begitulah dia selama bertahun-tahun."


| kembali ke atas | print artikel ini | kirim artikel ini
Artikel Lain:

• Avin
• Max Boboy
• Aksi Para Artis Bagi Musibah Tsunami
• Kalau Anak Artis Jadi Artis
• Bang Ucup - Ninie
• Setelah Abi Pergi
• Ny. Agian Sudah Siap Dibawa Pulang
• Akibat Tsunami, Kaki Mereka Diamputasi
• Melongok Sekolah Darurat Anak Pengungsi
• Kegiatan Global Resque di Ranah Bencana
• Kakak-Beradik Jadi Korban Ketel Meledak
 

Copyright © 2001 www.tabloidnova.com
All rights reserved.