20 April 2014  20:59 WIB
 
Home | Redaksi | Guest Book | Polling | Mailing List | Newsletter | Daftar Edisi | Chat | Kontak Nova
 

NOVA TERBARU
No. 1044 Thn. XVIII


Dapatkan Segera!
Sirkulasi:
Telp 021-2601666

Ulas Uang
3 REKENING DANA UNTUK ANAK
Info
Sadarkah Anda Dampak Buruk Teve Bagi Si Kecil
Terapi Warna untuk "Istana" Anda
5 RAHASIA SUKSES MEMBUAT KUE
Astrologi
Berlaku sampai 3 April 2005
Kesehatan
OLAHRAGA DI KANTOR, YUK....!
Griya
Washbasin
 
Best view with IE 5.5 & Netscape Navigator 6.1 or higher.
 

Asmara Sekantor, Waspadai Conflict of Interest

Naksir teman sekerja? Tak ada yang melarang memang, tapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan.


Pepatah bilang, benih cinta bisa bersemi di mana saja, termasuk di tempat kerja. "Cinta antar-teman sekerja biasanya muncul karena faktor kedekatan fisik," jelas Yuliana, Senior Consultant Experd. Karyawan kantoran menghabiskan sebagian besar waktunya di kantor. "Minimal 8 jam sehari. Kantor tak ubahnya rumah kedua. Belum lagi kalau nglembur. Pulang ke rumah langsung istirahat, jarang ada komunikasi internal dengan anggota keluarga maupun lingkungan. Tak heran jika hubungan dengan teman sekerja lama-lama makin dekat," lanjutnya.

Ambil contoh kedekatan dengan teman sekerja yang sejenis, cewek sama cewek. "Jarang sekali, kan, mereka makan siang dengan orang dari luar kantor, karena waktunya tidak memungkinkan. Pergi makan malam atau ke seminar pun kebanyakan bersama teman sekantor. Belum lagi kalau mereka punya hobi yang sama," kata Yuli, sapaan akrab Yuliana. Begitu pula dengan teman sekerja lawan jenis.

MENCARI PASANGAN
Komunitas kantor memang bisa menjadi salah satu pilihan terdekat untuk mencari pasangan. Entah sekadar dijadikan teman atau sahabat, maupun suami/istri. "Nah, karena seringnya ketemu, dan tak jarang mengerjakan proyek bareng, maka pepatah tak kenal tak sayang pun berlaku. Dan itu sangat manusiawi, kok," ujar Yuli.

Meski berniat mencari pasangan di kantor, "Bisa jadi seseorang tak mendapatkan figur
ideal di kantornya. Tapi, karena faktor kedekatan tadi, sering bertemu dan berinteraksi, nilai-nilai positif yang ada pada rekan kerja itu pun dirasa cukup memenuhi kriteria ideal sebagai pasangan hidup. Akhirnya, pacaran," lanjut Yuli.

Soal penampilan dan sifat, lanjut Yuli, sama saja dengan mencari pasangan di luar kantor. "Misalnya kalau kita termasuk orang yang gampang cinta pada pandangan pertama. Di kantor pun sama, begitu melihat rekan kerja lumayan, langsung tertarik," lanjut Yuli seraya membuat analogi tempat ibadah atau sekolah (kuliah). "Di tempat ibadah pun, misalnya gereja atau masjid, kita bisa menemukan pasangan hidup." Begitu pula di sekolah atau bangku kuliah. "Banyak, kan, suami-istri yang dulunya teman sekolah atau kuliah. Ini, kan, juga karena komunitasnya terseleksi."

Soal kualitas hubungan, Yuli tak melihat ada perbedaan antara pasangan sekantor maupun yang beda kantor. "Asal pacarannya serius, bukan pacaran sesaat. Cuma, seiring berjalannya waktu, hal-hal yang terjadi dan pengalaman selama di kantor memang bisa memengaruhi kualitas hubungan itu sendiri," jelas Yuli.

WASPADAI SISI NEGATIF
Tentu, ada sisi positif menjalin hubungan dekat dengan teman sekerja. "Bisa saling mendukung, bisa menambah semangat dan motivasi kerja, selain membuat kinerja lebih efektif," ujar Yuli. Contohnya, jika sebelumnya pulang kantor tidak terlalu malam supaya bisa ketemu pasangan, setelah pacaran, kegiatan-kegiatan itu bisa dilakukan bersama. "Ketemuan di kantor, makan malam bareng, pulang bareng, sehingga kerja bisa lebih efektif. Artinya, kalau ada tugas-tugas lembur yang harus dilakukan, bisa dilakukan tanpa pertimbangan lain, karena pasangan toh ada di kantor. Malah terkadang bisa diminta menemani," lanjutnya.

Tapi, sisi negatifnya pun ada, lo. Contoh, bagaimana seandainya hubungan tak berujung atau malah kandas di tengah jalan? "Jangankan dengan teman sekantor, pacar sejak kuliah saja masih bisa putus, kok. Dan karena sekantor, politik kantor dan permasalahan yang muncul di kantor pun sama-sama dialami." Misalnya atasan marah-marah ke semua karyawan. "Itu, kan, berarti marahnya ke kita dan pasangan, sehingga emosi bisa sama-sama tinggi."

Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan selama pacaran, "Komitmen sebelum pacaran sangat perlu dibuat. Juga, pertimbangkan lebih dulu posisi orang yang kita taksir, termasuk konsekuensi seandainya kita menjalin hubungan dengannya," jelas Yuli sambil menyarankan untuk menghindari hubungan yang sifatnya ke atas dan ke bawah. "Karena mau tidak mau ini akan menimbulkan persepsi tertentu dari penghuni kantor lain." Misalnya, mendapat promosi karena prestasinya bagus. "Orang lain di kantor tetap akan melihatnya sebagai pilih kasih (favouritism). 'Ah, dia, kan, atasannya, jadi pasti diduluin,' dan sebagainya."

Hindari juga hubungan dengan orang dari divisi yang conflict of interest-nya tinggi. Misalnya, karyawan bagian penjualan dan karyawan bagian produksi, atau bagian penjualan dan bagian keuangan. "Mereka ini, tanpa hubungan pribadi pun sudah gontok-gontokan, kok." Bagian HRD, lanjut Yuli, lebih sulit. "Buat kita enak, karena bisa curhat. Tapi kalau orang HRD pacaran sama orang di luar bagian HRD, harus hati-hati. Karena pasti muncul conflict of interest. Lebih baik HRD sama HRD."

Yang tak kalah penting, selama pacaran, rahasia pribadi boleh dibuka, tapi rahasia perusahaan harus tetap dijaga. "Itu kode etik perusahaan. Kita harus bersikap profesional."


| kembali ke atas | print artikel ini | kirim artikel ini
Artikel Lain:

• 10 Ulah Menjengkelkan Si Kecil
• 5 Pilar Membangun Kesetiaan
 

Copyright © 2001 www.tabloidnova.com
All rights reserved.