24 November 2014  20:29 WIB
 
Home | Redaksi | Guest Book | Polling | Mailing List | Newsletter | Daftar Edisi | Chat | Kontak Nova
 

NOVA TERBARU
No. 1044 Thn. XVIII


Dapatkan Segera!
Sirkulasi:
Telp 021-2601666

Varia Warta
SITUS UNTUK PARA TUNANETRA
JUMPA PEMENANG LOMBA NOVEL TEENLIT
KOLEKSI TERBARU TALISA HOUSE
PEMERIKSAAN IBU HAMIL
MENGEMBANGKAN POTENSI ANAK SECARA OPTIMAL
PROGRAM KESEHATAN GIGI & MULUT PEPSODENT
 
Best view with IE 5.5 & Netscape Navigator 6.1 or higher.
 

Jeritan Hati Istri Penjual bubur
"AH SUAMIKU, BUKAN BEGITU MELEPASKAN BEBAN HIDUP"

Tak tahan hidup dibebani bertumpuk masalah, sang penjual bubur nekat mengakhiri hidup dengan gantung diri. Konon, ia putus asa setelah gerobak buburnya dirazia petugas. Berikut ungkapan duka sang istri, Supiah (38).
KLIK - Detail
Kalau disuruh menulis kenangan selama bersama Yusuf (48) suamiku, rasanya berlembar-lembar buku tulis tak cukup menampungnya. Kenangan terhadap suamiku yang penjual bubur itu, memang tak akan pernah habis. Begitu banyak cerita indah. Meski hidup kami sederhana, tak pernah kami bertengkar dan punya masalah.

Namun, kenyamananku berada di sampingnya, terusik oleh petugas Tramtib (Keamanan dan Ketertiban) yang membuat suamiku trauma bahkan sampai putus asa. Semua ini bermula ketika gerobak bubur ayam yang jadi penopang hidup kami sekeluarga, dibawa petugas ketika terjadi razia di depan Gedung Kartika Plaza . Di jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, itulah suamiku biasa jualan.

Suamiku jadi trauma. Yang mengagetkanku, Sabtu (26/3) pagi, suamiku bunuh diri. Ah, tak terbayangkan, dia tega mengakhiri hidup dengan menggunakan seutas tali di gubuk yang berdekatan dengan kali. Hatiku merasa tercabik-cabik. Tanpa suami, rasanya hidupku tak bergairah lagi.

DIKEJAR-KEJAR PETUGAS
Aku yang berasal dari Malang (Jatim), bertemu dengan suami di Jakarta tahun 80-an. Saat itu, aku tinggal di rumah kerabat, begitu juga dengan Yusuf. Karena rumah kerabat berdekatan, aku mulai kenal baik Yusuf. Setahun menjalin cinta, kami menikah tahun 1982.

Sejak pertama kenal dia, pekerjaannya memang selalu berdagang. Dagang apa saja dilakukan asal halal. Mulai jualan barang-barang elektronik, boneka, hingga jual makanan semua dilakukan suami dengan lapang dada. Sepuluh tahun lalu, mulailah suamiku jual bubur ayam. Aku membantu dia menyiapkan bahan-bahan.

Penghasilan suamiku memang tidak besar. Hasil jual bubur mulai pukul 06.30 - 09.30, bisa mengantongi untung Rp 20 ribu per hari dengan modal Rp 200 ribu. Begitulah, kehidupan kami sehari-hari. Meski penghasilannya hanya cukup untuk makan, kami bahagia.

Pernah, suamiku yang berasal dari Banten, jual bubur di depan Polda Metro Jaya sampai akhirnya terakhir di depan Kartika Plaza. Saat berjualan, suamiku memang sering berhadapan dengan petugas Tramtib. Sejak Lebaran lalu, petugas yang merazia suamiku dan tiga kawannya yang mangkal di sana, lebih ganas lagi.

Hampir tiap hari suamiku harus kejar-kejaran dengan petugas, seperti kucing dan anjing. Kalau sudah mulai muncul petugas, suamiku mendorong gerobaknya dengan susah payah ke halaman Kartika Plaza. Untung beberapa karyawan Kartika Plaza iba sehingga suamiku diperbolehkan masuk ke pekarangannya. Jika petugas sudah pergi suami mendorong gerobaknya keluar.

Karena enggak tega melihat kerja keras suami, aku menawarkan diri ikut menemaninya jualan. Dua minggu sebelum kejadian, hampir setiap pagi aku ikut dengannya. Aku bertugas melihat-lihat petugas Tramtib datang dan suamiku bisa leluasa menghadapi pembeli.

KLIK - Detail Seminggu kemudian, aku tak lagi menemani karena petugas jarang muncul. Namun, Sabtu (19/3), pulang dari jualan, wajah suamiku pucat seperti tak ada darah. Kenapa? Dia bilang, gerobaknya dibawa petugas Tramtib. Belakangan kuketahui, empat pedagang di sana, termasuk suamiku, kalang kabut menghadapi petugas yang membawa truk dan tiga mobil Kijang.

Mereka menyeret dan menggotong gerobak-gerobak para pedagang bersama isinya naik ke truk. Walau para pedagang sudah teriak-teriak dan menangis histeris, petugas tetap menjalankan tugasnya dengan cepat. Suamiku hanya terpana menyaksikan pemandangan yang menyesakkan dada itu.

UTANG BELUM DIBAYAR
Sejak itulah suamiku sering diam dan menyendiri. Saking syoknya, dia sakit. Jika aku dan anak-anak menghiburnya, dia hanya bisa sedikit tersenyum. Setelah itu, ia kembali muram. Anak sulungku, Siti Aisyah (20) menasihati ayahnya agar bersabar. Tapi, suamiku malah memukul dadanya berkali-kali dengan keras.

Begitu putus asanya, suamiku berencana menyuruh anak kami sekolah di kampung saja. Ya, dari pada hidup di Jakarta enggak punya apa-apa. Ataukah suamiku putus asa karena masalah yang bertumpuk-tumpuk?

Sebelum gerobak diambil petugas Tramtib, aku dan suami memang ada masalah lain. Aku memiliki uang yang kukumpulkan dari hasil jerih payahku yang sesekali membantu suami berdagang dan uang hasil pusaka orang tua di desa sebesar Rp 20 juta. Karena aku dan suami mulai berpikir enggak mungkin selamanya tinggal di rumah bibi yang kami tempati selama ini, aku memutuskan untuk beli rumah.

Kebetulan aku punya kerabat di Bekasi. Dia menawarkan rumah temannya yang harganya Rp 25 juta. Aku menawar dengan harga Rp 20 juta, sesuai uang yang aku punya. Namun, si pemilik rumah, Yudi, tidak mau. Yudi malah pinjam duit kami sebesar Rp 20 juta. Jika dalam jangka dua bulan belum mengembalikan uang itu, Yudi yang bekerja sebagai pemborong, akan menyerahkan rumah yang akan kubeli itu.

Yudi juga mengatakan, kalau dia mampu melunasi utangnya, dia akan bayar dengan menambah Rp 3 juta. Namun, setelah tujuh bulan berlalu, janji pemborong itu tak pernah ditepati. Berkali-kali aku mendatanginya. Tapi, hanya tangan kosong yang kuterima.

Keadaan itu membuat suamiku makin sedih. Jadi, sepertinya masalah yang dihadapi suami bertumpuk-tumpuk. Padahal, masalah itu bukan dia saja yang memikirkan. Aku juga ikut, kok, mikir. Tapi, kalau ditanya soal uang yang dipinjam itu, aku seolah tak ambil pusing. Maksudku supaya suamiku tidak semakin tertekan.


| kembali ke atas | print artikel ini | kirim artikel ini
Artikel Lain:

• Cerita Para Pemain dan Kru Bajaj Bajuri
• Chrisye
• Serunya Berkolaborasi Bareng Artis Asing
• USAI GEMPA GUNCANG NIAS
• Jeritan Hati Korban Gempa Bumi di Nias
• Pembunuh Febi Ditangkap
• Derita Is Digauli Ayah Tiri
• Sepenggal Kisah Sutiami Menghadapi Tsunami
• Taman Observasi Anak Jala Puspa
 

Copyright © 2001 www.tabloidnova.com
All rights reserved.