Cerita Duka Ibunda Mahasiswa Yang Terbaring Koma
"Tuhan Pakai Dia Untuk
Menyatakan Kemuliaan-Nya"
Betapa gundahnya Ariance (49) ketika mendengar anak sulungnya yang kuliah
di UKI Jakarta, koma setelah dihajar aparat Trantib. Ia mempertanyakan
kesewenang-wenangan mereka.
Ketika sedang di rumah nonton teve, Selasa (17/5) sore, telepon rumah saya
berdering. Dari seberang, terdengar suara wanita yang mengaku teman anak
saya, Victor Djami (23)."Tante, segera ke Rumah Sakit UKI. Victor di UGD,"
ujarnya. Pemberitahuan itu membuat saya terkejut. Ada masalah apa? Teman
Victor tidak cerita apa-apa.
Berita ini tentu saja mengejutkan saya. Setahu saya, Victor yang biasa saya
sapa Umbu, sehat-sehat saja ketika dua hari sebelumnya berangkat dari rumah
menuju kediaman temannya yang tinggal di kawasan Cawang, tak jauh dari
kampusnya di Universitas Kristen Indonesia (UKI). Umbu yang sedang menyusun
skripsi, berangkat Minggu siang dan menginap di sana karena Senin pagi akan
menghadap dosennya.
Tanpa tanya apa-apa lagi, saya ditemani kerabat saya, Andreas, langsung
berangkat ke RS UKI dari rumah kami di Kelurahan Lagoa, Jakarta Utara.
Sepanjang perjalanan naik angkutan umum, saya bertanya-tanya, apa yang
menyebabkan Umbu sakit. Musibah apa yang menimpanya?
Sampai di UGD, ternyata Umbu sudah dalam keadaan koma. Tentu saja saya
langsung histeris. Dr Robert Sinurat yang menangani Umbu mengajak saya dan
Andreas, ke sebuah ruangan. Di sana dokter bermaksud menjelaskan kondisi
Umbu. Keadaan koma yang dialami umbu, tak lepas dari luka parah di
kepalanya. Namun, ketika dokter bermaksud menjelaskan tentang kondisi kepala
Umbu berdasarkan hasil foto rontgen, saya enggak kuat mendengarnya.
Tiba-tiba saja badan saya lemas, rasanya mau jatuh. Saya pun segera keluar.
Akhirnya, dokter menjelaskan hanya kepada Andreas. Sampai saat itu saya
masih belum percaya benar dengan apa yang terjadi. Anak saya sehari
sebelumnya masih sehat-sehat, kok, sekarang sudah koma. Mungkin semua ini
sudah rencana Tuhan.
DI TEMPAT YANG SALAH
Dari cerita teman-temannya saya tahu, Umbu menjadi korban
kekerasan yang dilakukan petugas Trantib (Ketenteraman dan Ketertiban),
Jakarta Timur, dalam peristiwa penggusuran PKL (Pedagang Kaki Lima) di
sekitar kampus UKI. Saat itu, sekitar 400 orang petugas trantib mengadakan
pembersihan terhadap PKL di kawasan Jalan Letjend. Sutoyo, Jakarta Timur.
(Penggusuran itu diprotes oleh PKL dibantu mahasiswa UKI. Terjadilah bentrok
antara petugas trantib dan mahasiswa. Menurut pres release yang dibuat
mahasiswa UKI, saat itulah sekitar pukul 15.00, Victor Djami alias Umbu
hendak pulang dari kampus. Ia sedang menunggu bus menuju rumahnya.
Pada saat bersamaan, terjadi aksi lempar antara mahasiswa dan petugas. Dalam
insiden ini, ada mahasiswa yang terluka. Sebagai anggota Korps Sukarelawan,
Umbu, mencoba menolong temannya yang terluka. Saat itulah, petugas terus
menyerang mahasiswa dan mahasiswa pun langsung masuk kampus.
Naas, Umbu yang hendak menolong temannya, jatuh. Ia pun dipukuli oleh
petugas trantib. Masih menurut pers release itu, para saksi melihat, kepala
Umbu dipukuli dengan batu besar yang biasa digunakan untuk kontruksi jalan
raya.)
Dalam peristiwa itu, Umbu berada di tempat yang salah dan waktu yang salah.
Dia tidak ikut dalam kegiatan itu, namun entah kenapa malah menjadi korban.
Mungkin karena memiliki jiwa sosial, ia terseret dalam peritiwa itu. Soalnya
selama ini Umbu saya kenal sebagai anak yang bijak dan tidak suka keributan.
Selama kuliah, dia tidak pernah ikut-ikutan berdemo.
Ah, kenapa petugas sampai hati menganiaya Umbu? Kalau memang anak saya
salah, kenapa tidak ditangkap saja? Yang terjadi, mereka menghajar Umbu
seperti menghajar binaang saja. Selain kepalanya terluka parah, lehernya
ditusuk sedalam 5 cm, telinga tersayat bayonet, 4 giginya copot, dan masih
banyak lagi luka-luka di seluruh tubuhnya. Maksud mereka memang mau membunuh
anak saya. Betapa sadisnya.
Memang sebagai manusia, perasaan saya sangat hancur. Bukan saja melihat
kondisi kepalanya, tetapi juga suasana di ICU. Sejak Victor masuk ICU, sudah
15 pasien yang meninggal. Kondisi ini sedikit banyak sempat mempengaruhi
jiwa saya. Akankah nyawa Victor tak tertolong seperti mereka? |