25 Oktober 2014  14:58 WIB
 
Home | Redaksi | Guest Book | Polling | Mailing List | Newsletter | Daftar Edisi | Chat | Kontak Nova
 

NOVA TERBARU
No. 1044 Thn. XVIII


Dapatkan Segera!
Sirkulasi:
Telp 021-2601666

Varia Warta
PELATIHAN TENAGA MEDIS PUSKESMAS
PELUNCURAN BUNG KARNO SANG ARSITEK
CARA ALAMI ATASI KANKER LEHER RAHIM
LUTUNG KASARUNG ALA DONGENG HEBOH
 
Best view with IE 5.5 & Netscape Navigator 6.1 or higher.
 

Cerita Duka Ibunda Mahasiswa Yang Terbaring Koma
"Tuhan Pakai Dia Untuk Menyatakan Kemuliaan-Nya"

KLIK - DetailBetapa gundahnya Ariance (49) ketika mendengar anak sulungnya yang kuliah di UKI Jakarta, koma setelah dihajar aparat Trantib. Ia mempertanyakan kesewenang-wenangan mereka.

Ketika sedang di rumah nonton teve, Selasa (17/5) sore, telepon rumah saya berdering. Dari seberang, terdengar suara wanita yang mengaku teman anak saya, Victor Djami (23)."Tante, segera ke Rumah Sakit UKI. Victor di UGD," ujarnya. Pemberitahuan itu membuat saya terkejut. Ada masalah apa? Teman Victor tidak cerita apa-apa.

Berita ini tentu saja mengejutkan saya. Setahu saya, Victor yang biasa saya sapa Umbu, sehat-sehat saja ketika dua hari sebelumnya berangkat dari rumah menuju kediaman temannya yang tinggal di kawasan Cawang, tak jauh dari kampusnya di Universitas Kristen Indonesia (UKI). Umbu yang sedang menyusun skripsi, berangkat Minggu siang dan menginap di sana karena Senin pagi akan menghadap dosennya.

Tanpa tanya apa-apa lagi, saya ditemani kerabat saya, Andreas, langsung berangkat ke RS UKI dari rumah kami di Kelurahan Lagoa, Jakarta Utara. Sepanjang perjalanan naik angkutan umum, saya bertanya-tanya, apa yang menyebabkan Umbu sakit. Musibah apa yang menimpanya?

Sampai di UGD, ternyata Umbu sudah dalam keadaan koma. Tentu saja saya langsung histeris. Dr Robert Sinurat yang menangani Umbu mengajak saya dan Andreas, ke sebuah ruangan. Di sana dokter bermaksud menjelaskan kondisi Umbu. Keadaan koma yang dialami umbu, tak lepas dari luka parah di kepalanya. Namun, ketika dokter bermaksud menjelaskan tentang kondisi kepala Umbu berdasarkan hasil foto rontgen, saya enggak kuat mendengarnya.

Tiba-tiba saja badan saya lemas, rasanya mau jatuh. Saya pun segera keluar. Akhirnya, dokter menjelaskan hanya kepada Andreas. Sampai saat itu saya masih belum percaya benar dengan apa yang terjadi. Anak saya sehari sebelumnya masih sehat-sehat, kok, sekarang sudah koma. Mungkin semua ini sudah rencana Tuhan.

DI TEMPAT YANG SALAH
Dari cerita teman-temannya saya tahu, Umbu menjadi korban kekerasan yang dilakukan petugas Trantib (Ketenteraman dan Ketertiban), Jakarta Timur, dalam peristiwa penggusuran PKL (Pedagang Kaki Lima) di sekitar kampus UKI. Saat itu, sekitar 400 orang petugas trantib mengadakan pembersihan terhadap PKL di kawasan Jalan Letjend. Sutoyo, Jakarta Timur.
KLIK - Detail
(Penggusuran itu diprotes oleh PKL dibantu mahasiswa UKI. Terjadilah bentrok antara petugas trantib dan mahasiswa. Menurut pres release yang dibuat mahasiswa UKI, saat itulah sekitar pukul 15.00, Victor Djami alias Umbu hendak pulang dari kampus. Ia sedang menunggu bus menuju rumahnya.

Pada saat bersamaan, terjadi aksi lempar antara mahasiswa dan petugas. Dalam insiden ini, ada mahasiswa yang terluka. Sebagai anggota Korps Sukarelawan, Umbu, mencoba menolong temannya yang terluka. Saat itulah, petugas terus menyerang mahasiswa dan mahasiswa pun langsung masuk kampus.

Naas, Umbu yang hendak menolong temannya, jatuh. Ia pun dipukuli oleh petugas trantib. Masih menurut pers release itu, para saksi melihat, kepala Umbu dipukuli dengan batu besar yang biasa digunakan untuk kontruksi jalan raya.)

Dalam peristiwa itu, Umbu berada di tempat yang salah dan waktu yang salah. Dia tidak ikut dalam kegiatan itu, namun entah kenapa malah menjadi korban. Mungkin karena memiliki jiwa sosial, ia terseret dalam peritiwa itu. Soalnya selama ini Umbu saya kenal sebagai anak yang bijak dan tidak suka keributan. Selama kuliah, dia tidak pernah ikut-ikutan berdemo.

Ah, kenapa petugas sampai hati menganiaya Umbu? Kalau memang anak saya salah, kenapa tidak ditangkap saja? Yang terjadi, mereka menghajar Umbu seperti menghajar binaang saja. Selain kepalanya terluka parah, lehernya ditusuk sedalam 5 cm, telinga tersayat bayonet, 4 giginya copot, dan masih banyak lagi luka-luka di seluruh tubuhnya. Maksud mereka memang mau membunuh anak saya. Betapa sadisnya.

Memang sebagai manusia, perasaan saya sangat hancur. Bukan saja melihat kondisi kepalanya, tetapi juga suasana di ICU. Sejak Victor masuk ICU, sudah 15 pasien yang meninggal. Kondisi ini sedikit banyak sempat mempengaruhi jiwa saya. Akankah nyawa Victor tak tertolong seperti mereka?


| kembali ke atas | print artikel ini | kirim artikel ini
Artikel Lain:

•  RAMAI-RAMAI LAPOR KE POLDA
•  Irgi Ahmad Fahrezi
• Operasi Pemisahan Kembar Siam Nia-Mia
• Derita Bayi Pasca Imunisasi Polio
• Tak Tahan Dipukuli, Istri Seret Suami Masuk Bui
• Pembantu Dirayu, Tagihan Telepon Rp 20 juta
• Lakon Duka Pemulung di Belantara Jakarta
• Festival Pasar Baru 2005
• Dari Perhelatan Bali Fashion Week VI
 

Copyright © 2001 www.tabloidnova.com
All rights reserved.