23 November 2014  17:04 WIB
 
Home | Redaksi | Guest Book | Polling | Mailing List | Newsletter | Daftar Edisi | Chat | Kontak Nova
 

NOVA TERBARU
No. 1044 Thn. XVIII


Dapatkan Segera!
Sirkulasi:
Telp 021-2601666

Kabar Kabur
Rahma Azhari Sudah Punya Anak?
Andre 'Stinky' & Erin Nikah 17 Desember
Kisah
AMING 2
 
Best view with IE 5.5 & Netscape Navigator 6.1 or higher.
 

KRT. Daud Wiryo Hadinagoro
BATIKNYA DIKOLEKSI TOKOH-TOKOH DUNIA

KLIK - Detail Pria berusia 44 tahun yang masih melajang ini termasuk perajin batik yang disegani. Bukan pabrikan, ia mengerjakannya seperti kerajinan tangan. Karya bungsu dari 10 bersaudara ini pun dikagumi orang-orang ternama.

Bagaimana ceritanya tertarik dengan batik?
Saya memang berasal dari keluarga pembatik. Sejak tahun 1954 ketika saya berusia tiga tahun, ayah saya, R. Petrus Haryono yang kelahiran Yogyakarta, sudah menjadi perajin batik. Ibu saya yang masih keturunan keraton Solo, K.MAT Esther Widyo Wanandyo juga pedagang batik di pasar Beringharjo, Yogyakarta.

Selain membuat batik, Bapak juga seorang kolektor. Beliau mempunyai ribuan batik. Nah, sejak remaja saya mendapat tugas dari Bapak untuk merawat batik koleksinya. Salah satunya, dua minggu sekali, batik-batik itu saya angin-anginkan. Setelah itu, saya kembali melipatnya dengan hati-hati. Jangan salah lho, melipat batik, apalagi yang sudah kuno, tidaklah gampang.

Setelah saya perhatikan saya jadi tahu, setiap batik yang saya keringkan itu, ada cap keraton. Diliputi rasa heran, saya tanya Bapak, kok, batik-batik itu ada cap keraton.Ternyata semua batik itu memang asli dari keraton zaman dulu.

Lantas?
Singkat cerita, tahun 1978 Bapak meninggal dunia. Saya dan keluarga ingin membuat museum batik untuk merawat sekaligus memperkenalkan koleksi batik Bapak yang jumlahnya 2216 potong. Namanya saja museum, tentu harus ada keterangan tentang batik-batik itu. Namun, saya dan keluarga tidak hafal, dari mana kain-kain itu berasal. Berdasarkan cap keraton di kain batik itu, saya mendatangi keraton-keraton se-Indonesia selama tiga tahun.

Saya bertanya kepada ibu-ibu di keraton tentang batik-batik itu. Begitulah, saya semakin memahami soal batik. Ternyata setiap kain batik ada filosofinya. Di dalamnya terkandung makna kehidupan yang apabila dipahami akan mampu memberi kekayaan batin tersendiri. Jadi, kain batik bukan sekadar perpaduan gambar sehingga jadi sebuah kombinasi yang menarik, melainkan ada kandungan cerita yang tersimpan di dalam motif itu. Akhirnya museum itu berdiri dan kami beri nama Museum Budaya Jawa. Lokasinya di Kaliurang, Yogyakarta.
KLIK - Detail
Sejak itu, Anda mengelola museum?
Memang benar. Bahkan, saya pernah jadi humas organisasi museum Indonesia. Sebagai humas, saya sering pergi melawat museum-museum yang ada. Setelah berkeliling, saya memang makin mencintai dunia batik. Mulailah saya "meneruskan" usaha ayah saya menjadi pembatik. Hanya saja saya belum membuatnya untuk pasar yang luas. Yang saya lakukan masih sekadar membuat duplikat batik koleksi museum.

Mulai kapan punya niat memproduksi secara lebih luas?
Tahun 1994. Ceritanya, saya selalu kerja sama dengan Dinas Pariwisata. Setiap ada turis datang, mereka selalu diajak ke Museum Budaya Jawa. Suatu saat, ada turis dari Jepang datang. Wah, mereka terkesima dengan proses pengerjaan batik saya. Sampai-sampai mereka minta diajari membatik. Dari situ saya melihat, ternyata batik karya saya disukai orang asing. Saya pun ingin membuat untuk pasar lebih luas lagi. Nah, saya mengajak anak-anak muda untuk berkarya bersama saya.

Apa ciri khas batik Anda?
Sebelumnya perlu diketahui, hingga sekarang sudah ada 6368 kain batik kraton yang yang tersebar di seluruh Indonesia. Untuk menembus model batik kraton, tentu saja saya kalah.

Saya memilih batik tematis. Motif batik saya bertema AIDS, orang-orang unjuk rasa, atau pemulung yang rumahnya di sekitar sampah.

Selain itu, teknik pembuatannya pun berbeda. Dulu, orang cuma mencelup batik sebanyak 2-3 kali, saya bisa 28 kali. Untuk warna, kalau dulu orang butuh pewarna 1 kg, saya bisa menggunakan 1 kuintal warna. Hasilnya, batik saya tak gampang sobek dan warna pun jadi pekat dan indah. Itulah ciri khas saya sampai sekarang.

KLIK - Detail Apa tren batik karya Anda sekarang?
Motif sosial dan kehidupan. Misal tentang tsunami. Di situ saya lukiskan bagaimana porak porandanya suasana waktu itu. Saya gambarkan pohon-pohon dan air sungai. Saya torehkan dengan gambar, masih ada pengharapan disitu. Ada lagi motif bom Bali. Saya gambarkan suasananya hiruk pikuk. Ada bayangan orang berlari-larian, mobil hancur, kaca hotel pecah dan gambaran tentang kecemasan warga. Dengan garis-garis seperti itu orang jadi tahu begitulah kain nasional Indonesia.

Berapa, sih, harga kain batik Anda?
Untuk batik seperti ini yang saya sebut karya idealis, saya menjual mulai harga Rp 3 juta. Karena merupakan kerajinan tangan, harganya memang enggak bisa murah. Kalau ada konsumen protes, saya jelaskan bagaimana proses pembuatan, berapa ongkos produksi, dan sebagainya. Misalnya saja mengerjakan selendang batik butuh tenaga 2-3 orang. Untuk mengerjakan sarung ukuran 2,5 x 1,5 meter, harus dikerjakan 25 orang dengan waktu tujuh bulan. Pengerjaannya memang seperti itu karena ada tujuh dimensi. Saya mengelompokkan setiap orang untuk mengerjakannya.

Suatu kali saya pernah ditanya orang Belgia, berapa lama saya bisa menghasilkan satu karya selendang batik. Dengan jujur saya bilang, memakan waktu tujuh bulan. Dia bilang, "Wah mati dong menungguh lama proses pengerjaan." Saya jelaskan padanya, saya punya program untuk melestarikan budaya dengan cara seperti itu. Sejak itu mereka beli batik bukan karena saya, tapi melihat pro gram-program yang saya jalankan. Meski mahal, batik-batik karya saya disenangi turis mancanegara.

Kendati demikian, tidak semua batik saya mahal, kok. Belakangan ini saya memenuhi permintaan pemerintah membuat setelan batik, untuk kebutuhan kantor 218 BUMN di seluruh Indonesia. Harga satu setelan batik cuma Rp 350 ribu. Proses pengerjaannya juga tidak terlalu lama, cuma tiga minggu.


| kembali ke atas | print artikel ini | kirim artikel ini
 

Copyright © 2001 www.tabloidnova.com
All rights reserved.